Subsidi LPG 3 Kg Naik Jadi Rp114,1 Triliun, Pemerintah Siapkan CNG sebagai Pengganti

MimbarJurnalis.com, JAKARTA – Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi LPG 3 kg sebesar Rp114,1 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Angka tersebut meningkat Rp23,7 triliun atau 26,2% dibandingkan outlook APBN 2026 sebesar Rp90,4 triliun.

Dari sisi volume, subsidi LPG 3 kg dalam RAPBN 2027 ditetapkan sebanyak 8,94 juta ton, naik 11,75% dibandingkan outlook APBN 2026 yang mencapai 8 juta ton.

Anggaran subsidi LPG 3 kg menjadi yang terbesar dalam total subsidi energi RAPBN 2027. Nilainya mencapai sekitar 41,8% dari total subsidi energi sebesar Rp272,9 triliun.

Perhitungan anggaran tersebut menggunakan sejumlah asumsi, antara lain nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS dan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$75 per barel.

Di tengah kenaikan anggaran, pemerintah juga melanjutkan transformasi penyaluran subsidi LPG 3 kg agar lebih tepat sasaran. Penerima subsidi nantinya akan berbasis penerima manfaat dan terintegrasi dengan data penerima yang lebih akurat.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah pendataan pengguna LPG 3 kg berbasis teknologi. Dengan skema tersebut, pengguna LPG 3 kg harus terdata dan tercantum dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Pelaksanaan transformasi ini dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan data, infrastruktur, serta kondisi ekonomi dan sosial masyarakat,” demikian tertulis dalam Buku II Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2027, dikutip Rabu (19/8/2026).

Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg

Selain melakukan reformasi subsidi, pemerintah juga menyiapkan compressed natural gas (CNG) dalam tabung 3 kg sebagai alternatif LPG 3 kg. Program tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap LPG impor.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut uji coba CNG Merah Putih 3 kg akan dilakukan dalam waktu dekat. Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) saat ini masih menyelesaikan tahap akhir pengujian tabung tersebut.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan CNG 3 kg nantinya juga akan mendapatkan subsidi pemerintah.

Namun, besaran subsidi tersebut belum dirinci. Laode menyebut kebutuhan subsidi CNG 3 kg diperkirakan lebih rendah sekitar 30% hingga 40% dibandingkan subsidi LPG 3 kg.

Ketika ditanya mengenai kenaikan anggaran LPG 3 kg pada 2027, Laode mengatakan pembahasan masih dilakukan karena program CNG baru memasuki tahap awal.

“Nanti kita bahas ya. Ini kan CNG baru mulai,” kata Laode saat ditemui di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (19/8/2026).

Pengujian CNG 3 kg yang masih berlangsung mencakup gun fire test untuk menguji ketahanan tabung terhadap kondisi ekstrem, termasuk paparan suhu tinggi.

Setelah pengujian selesai, CNG Merah Putih 3 kg akan diuji coba di kantin atau lingkungan UMKM Lemigas. Selanjutnya, badan usaha akan ditunjuk untuk memproduksi tabung tersebut dalam jumlah besar.

“Setelah itu badan usaha yang nanti akan ditunjuk produksi tabungnya, itu nanti akan ditugaskan, mengadakan dalam jumlah skala yang seperti sudah diumumkan, lebih dari 10.000, 20.000, 30.000,” tutur Laode, Rabu (19/8/2026).

CNG Belum Berdampak pada Subsidi 2027

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai program CNG belum memberikan dampak terhadap anggaran subsidi LPG 3 kg pada 2027.

Menurutnya, adopsi CNG masih berada pada tahap persiapan sehingga belum memiliki volume substitusi LPG.

“CNG belum menyumbang apa pun pada 2027. Program tabung CNG 3 kg masih pada tahap penyiapan. Volume substitusinya nol, sehingga secara aritmetika tidak mungkin menekan pagu 2027. Klaim bahwa CNG ‘menekan subsidi’ adalah pernyataan tentang potensi jangka menengah, bukan tentang anggaran tahun depan,” tutur Yayan.

Yayan juga menyoroti persoalan kapasitas energi. Dengan kapasitas air tabung 7,3 liter, LPG 3 kg membawa energi sekitar 138 megajoule (MJ). Sementara CNG pada tekanan 200 bar hanya membawa sekitar 57,5 MJ atau sekitar 42% dari energi LPG.

Artinya, untuk memperoleh energi yang setara, rumah tangga diperkirakan harus mengganti tabung CNG sekitar 2,4 kali lebih sering. Tabung CNG dalam kondisi penuh juga diperkirakan 52% lebih berat dibandingkan tabung LPG.

Menurut Yayan, kenaikan subsidi LPG 3 kg pada 2027 lebih banyak dipengaruhi faktor harga dan nilai tukar dibandingkan pertumbuhan volume.

Ia memperkirakan subsidi per kilogram meningkat dari Rp10.691 pada 2026 menjadi Rp13.037 pada 2027. Sementara volume LPG bersubsidi naik dari estimasi 8,46 juta ton menjadi 8,94 juta ton.

Dari total kenaikan subsidi LPG 3 kg sebesar Rp23,7 triliun, sekitar Rp20,2 triliun disebut berasal dari efek harga dan kurs, sedangkan sekitar Rp3,5 triliun berasal dari peningkatan volume.

Mayoritas Subsidi Dinikmati Kelompok di Luar Sasaran Utama

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah subsidi LPG 3 kg yang melekat pada barang, bukan diberikan secara langsung kepada penerima manfaat.

Berdasarkan analisis terhadap data SUSENAS 2025 dengan 343.460 rumah tangga, konsumsi LPG 3 kg tersebar di berbagai kelompok pengeluaran.

Rumah tangga pada desil 1 menguasai sekitar 8,4% volume nasional, sedangkan desil 10 mencapai 10,8%. Secara keseluruhan, sekitar 72,5% volume LPG 3 kg bersubsidi dinikmati rumah tangga desil 4 hingga 10.

Dengan pagu subsidi sebesar Rp114,1 triliun, angka tersebut setara sekitar Rp82,7 triliun yang mengalir kepada rumah tangga di luar kelompok sasaran utama.

Kondisi ini menjadi salah satu alasan pemerintah terus mendorong reformasi penyaluran subsidi LPG 3 kg agar bantuan energi dapat diterima masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

-Arif Adha Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *