Jengkol Sumbar Naik Kelas! Dari Oleh-Oleh Kini Jadi Komoditas Ekspor ke Jepang

MimbarJurnalis.com, PADANG – Siapa sangka jengkol, komoditas yang selama ini identik dengan makanan khas masyarakat Indonesia, ternyata memiliki peluang besar hingga ke pasar internasional.

Kisah menarik itu berawal pada 2017. Seorang pelaku usaha asal Sumatera Barat, Ilham, membawa jengkol segar sebagai oleh-oleh saat berkunjung ke Jepang.

Dari perjalanan sederhana tersebut, Ilham justru menemukan peluang bisnis yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ternyata, banyak diaspora Indonesia di Jepang yang rindu menikmati jengkol.

“Saya berpikir, nanti saya pulang berkunjung dari Jepang, saya pingin jual lah. Karena ternyata banyak teman diaspora Indonesia yang juga ingin menikmati jengkol,” ujar Ilham dalam Webseries Go Ekspor Barantin #6, Rabu (19/8/2026).

Dari situlah muncul gagasan untuk membawa jengkol khas Sumatera Barat ke pasar Jepang secara resmi.

Dari Oleh-Oleh Jadi Bisnis Ekspor

Sekembalinya dari Jepang, Ilham mulai mencari tahu bagaimana cara mengirim jengkol ke luar negeri secara legal dan memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku.

Ia mengikuti berbagai seminar, diskusi hingga pelatihan yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat maupun kementerian terkait.

Upaya tersebut akhirnya diwujudkan dengan mendirikan CV Amanah Murasakih pada 27 Januari 2021.

Ilham mengaku proses untuk menjadi eksportir tidaklah mudah. Ada berbagai aturan, standar dan persyaratan yang harus dipenuhi sebelum sebuah komoditas dapat dikirim ke negara tujuan.

“Gimana bisa kirim secara resmi. Ikut seminar datang ke sana ke sini. Dari sanalah saya paham ternyata setiap proses ekspor harus ada aturan, tidak bisa sembarangan,” ujarnya.

Dapat Pendampingan Karantina hingga Berhasil Ekspor

Perjalanan Ilham menembus pasar ekspor juga mendapat pendampingan dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat.

Melalui pendampingan tersebut, Ilham mendapatkan pemahaman mengenai berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum jengkol dapat dikirim ke Jepang.

“Saya ke Karantina, saya diberi pemahaman, diedukasi, dibina, tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum jengkol dikirim. Berkat dorongan kami berhasil ekspor,” katanya.

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat, RM Ende Dezeanto, mengatakan pengalaman CV Amanah Murasakih membuktikan bahwa komoditas pertanian daerah memiliki peluang untuk menembus pasar internasional.

Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan pemenuhan standar dan persyaratan dari negara tujuan.

Ada Klinik Ekspor untuk UMKM

Menurut Ende, Badan Karantina Indonesia atau Barantin menyediakan layanan Klinik Ekspor di setiap kantor maupun Balai Karantina.

Layanan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha, UMKM hingga eksportir yang ingin mengetahui peluang dan persyaratan ekspor produknya.

Melalui Klinik Ekspor, pelaku usaha dapat berkonsultasi mengenai kondisi produk, kualitas, keamanan, dokumen hingga kebutuhan sertifikasi.

“Karantina siap mendampingi kebutuhan pelaku UMKM. Mulai dari konsultasi, pemeriksaan, pengujian, sampai penerbitan sertifikat yang dipersyaratkan,” kata Ende.

Untuk ekspor jengkol ke Jepang, salah satu dokumen penting yang harus dipenuhi adalah Phytosanitary Certificate atau sertifikat fitosanitari.

Sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa komoditas tumbuhan yang diekspor telah memenuhi persyaratan kesehatan tumbuhan sesuai ketentuan negara tujuan.

Prosesnya dimulai dari pengajuan permohonan, verifikasi dokumen, pemeriksaan komoditas, pengambilan sampel apabila diperlukan hingga pengujian laboratorium.

Jika seluruh persyaratan terpenuhi dan komoditas dinyatakan memenuhi ketentuan, sertifikat fitosanitari dapat diterbitkan.

Ekspor Jengkol Sumbar Capai Ratusan Juta Rupiah

Data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat menunjukkan jengkol bukan lagi sekadar komoditas konsumsi lokal.

Pada 2024, tercatat sebanyak 25 sertifikat ekspor jengkol diterbitkan dengan volume mencapai 4.045,92 kilogram dan nilai komoditas sekitar Rp323,67 juta.

Pada 2025, tercatat sembilan sertifikat dengan volume 3.534 kilogram dan nilai sekitar Rp282,72 juta.

Sementara hingga Agustus 2026, telah diterbitkan empat sertifikat ekspor dengan volume 767 kilogram dan nilai mencapai Rp61,63 juta.

“Jangan melihat jengkol hanya sebagai komoditas konsumsi lokal. Dengan kualitas yang baik dan pemenuhan persyaratan yang tepat, komoditas ini memiliki peluang untuk menjadi produk ekspor,” ujar Ende.

Bukan Hanya Jengkol, Komoditas Sumbar Juga Mendunia

Keberhasilan jengkol menembus pasar internasional menjadi salah satu bukti bahwa produk lokal memiliki peluang besar untuk berkembang.

Selain jengkol, sejumlah komoditas asal Sumatera Barat juga telah menembus pasar ekspor.

Di antaranya madu, tuna sirip kuning beku, ikan hias laut, ikan garing beku, benih ikan garing, kayu manis, cangkang sawit, kulit lempengan, hingga bungkil sawit.

Kisah Ilham pun menjadi contoh bahwa peluang ekspor bisa berawal dari hal sederhana.

Siapa sangka, jengkol yang awalnya hanya dibawa sebagai oleh-oleh ke Jepang pada 2017 kini berkembang menjadi komoditas ekspor. Dari makanan yang identik dengan pasar lokal, jengkol Sumatera Barat membuktikan bahwa produk daerah pun bisa menembus pasar Negeri Sakura.

David

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *