MimbarJurnalis.com, FLORES – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 kembali mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8/2026) pagi. Guncangan gempa dirasakan cukup kuat hingga Kota Labuan Bajo dan membuat sejumlah warga panik keluar rumah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 05.45 WIB. Episenter gempa berada di darat, sekitar 34 kilometer arah timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer.
Berdasarkan hasil pemodelan BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Guncangan dilaporkan turut dirasakan di wilayah Manggarai Barat, Nagekeo, dan Sikka.
Gempa pagi itu menjadi bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.
Hingga Kamis (20/8/2026) pukul 06.00 WIB, BMKG mencatat total 3.422 kali gempa susulan. Dari jumlah tersebut, gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1.
Sebanyak 26 gempa susulan tercatat memiliki kekuatan magnitudo 5 ke atas, sementara 99 gempa di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
Warga Labuan Bajo, Alfonsius Ardi (54), mengaku panik ketika merasakan guncangan kuat pada Kamis pagi.
“Tiba-tiba rumah berguncang kuat sekali. Benda-benda di lemari berjatuhan. Kami langsung lari keluar, takut ada reruntuhan. Semua orang di lingkungan juga keluar rumah, panik semua. Sudah terbiasa dengan gempa susulan, tapi kali ini terasa cukup kuat,” ujar Alfonsius saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026).
Kepala BMKG Wilayah NTT, Arief Tyastama, mengatakan aktivitas gempa susulan masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
“Sampai dengan 20 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB telah terjadi gempa susulan sebanyak 3.394 kali. Untuk gempa susulan masih berpotensi terjadi sampai lebih kurang 3-4 minggu ke depan,” ujar Arief, Kamis (20/8/2026).
Menurut Arief, aktivitas gempa menunjukkan pola yang cenderung menurun. Namun, kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan munculnya gempa yang masih dapat dirasakan masyarakat.
Ia menjelaskan penurunan aktivitas gempa menunjukkan proses pelepasan energi sisa masih berlangsung menuju keseimbangan baru di zona sumber gempa.
“Magnitudo bervariasi dan cenderung mengecil dari gempa utama, serta semakin jarang. Meski demikian, sesekali akan tetap muncul gempa yang dirasakan. Hal ini memang bisa terjadi karena masih dalam proses menuju keseimbangan dengan melepaskan energi yang tersisa,” ujar Arief, Kamis (20/8/2026).
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi atau isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Masyarakat juga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat rangkaian gempa. Informasi terkait perkembangan aktivitas gempa diimbau hanya diperoleh melalui kanal resmi BMKG dan BPBD setempat.
-Arif Adha Saputra






