MimbarJurnalis.com, PEKANBARU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Provinsi Riau kini bukan hanya berdampak terhadap lingkungan. Kabut asap yang kembali muncul di sejumlah wilayah juga menjadi perhatian serius karena berpotensi memperburuk gangguan kesehatan masyarakat.
Sepanjang 2026, Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat sedikitnya 237.835 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA.
Selain itu, terdapat 629 kasus pneumonia pada balita yang turut menjadi perhatian.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan setelah kabut asap akibat karhutla kembali menyelimuti sejumlah wilayah Riau, termasuk Kota Pekanbaru. Dalam periode tertentu, kualitas udara bahkan sempat berada pada kategori berbahaya.
Udara Pekanbaru Sempat Masuk Level Berbahaya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG Stasiun Pekanbaru sebelumnya mendeteksi kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan masuk ke wilayah Kota Pekanbaru.
Kondisi terparah terpantau di sekitar Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Warjono, mengatakan konsentrasi partikel halus PM 2,5 saat itu mencapai 276 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut membuat kualitas udara sempat berada pada kategori berbahaya.
“Tadi pagi terutama di bandara terpantau asap masuk ke wilayah Kota Pekanbaru dan kualitas udaranya terpantau sampai berwarna hitam atau berbahaya. Kemungkinan ini adalah asap yang berasal dari Pelalawan karena di sana banyak titik api,” katanya.
Kabut asap pekat tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 WIB.
Setelah itu, perubahan arah dan kecepatan angin membantu mengurai sebaran asap sehingga kualitas udara berangsur membaik.
Meski demikian, kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa dampak karhutla dapat berubah dengan cepat, terutama ketika arah angin membawa asap dari wilayah kebakaran menuju kawasan permukiman.
Pelalawan Jadi Salah Satu Sumber Asap
BMKG mencatat kabut asap tidak hanya menyelimuti Pekanbaru.
Kondisi yang lebih pekat juga terjadi di Kabupaten Pelalawan yang menjadi salah satu wilayah dengan banyak titik panas.
Saat pemantauan dilakukan, terdapat sekitar 75 titik panas di Provinsi Riau, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kabupaten Pelalawan yang mencapai sekitar 30 titik.
Kebakaran di kawasan Kerumutan menjadi salah satu perhatian karena lokasi sulit dijangkau dan berada di kawasan lahan gambut.
Karakteristik gambut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit. Api dapat menyimpan bara di bawah permukaan tanah dan kembali muncul apabila proses pendinginan belum dilakukan secara menyeluruh.
ISPA Capai 237.835 Kasus
Di tengah ancaman kabut asap, tingginya kasus penyakit pernapasan di Riau menjadi perhatian serius.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat sepanjang 2026 terdapat 237.835 kasus ISPA.
Sementara itu, kasus pneumonia pada balita tercatat mencapai 629 kasus.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 Riau mencatat 603.480 kasus ISPA dan 1.312 kasus pneumonia pada balita.
Kabut asap dan paparan partikel halus dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan.
Anak-anak, balita, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Dinkes Riau Ingatkan Kelompok Rentan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, balita dan masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan.
“Untuk kelompok rentan seperti lansia, balita dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah,” kata Zulkifli, Rabu (19/8/2026).
Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan menjaga kebutuhan cairan tubuh.
“Kalau memang harus keluar rumah, gunakan masker. Kemudian banyak minum air putih dan konsumsi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” ujarnya.
Warga Diminta Tetap Waspada
Meski kondisi kabut asap di Pekanbaru sempat membaik setelah perubahan arah angin, ancaman karhutla di Riau belum sepenuhnya berakhir.
Titik panas masih muncul di sejumlah daerah dan kebakaran di kawasan lahan gambut membutuhkan penanganan yang tidak mudah.
Dengan 237.835 kasus ISPA sepanjang 2026, munculnya kembali kabut asap menjadi alarm bagi masyarakat untuk tidak menganggap remeh perubahan kualitas udara.
Karhutla bukan hanya soal api dan hutan yang terbakar. Ketika asap mulai masuk ke kawasan permukiman, dampaknya bisa langsung mengancam kesehatan, terutama bagi balita, anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan.
Rom






