MimbarJurnalis.com, JAKARTA — Erupsi Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mulai menimbulkan dampak berantai terhadap berbagai aktivitas masyarakat. Selain menyebabkan sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah, erupsi juga mengganggu sektor transportasi udara dan berpotensi memengaruhi perekonomian.
Erupsi yang terjadi pada Sabtu (5/9/2026) pagi tersebut membuat abu vulkanik bergerak hingga Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan.
Gangguan juga dirasakan sektor penerbangan. Hingga 7 September 2026, sebanyak 2.961 penerbangan dan sekitar 341 ribu penumpang terdampak akibat gangguan aktivitas penerbangan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak yang lebih luas apabila gangguan berlangsung dalam waktu lama.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan dampak ekonomi erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya dirasakan maskapai penerbangan.
Menurutnya, pariwisata, perhotelan, restoran, transportasi, agen perjalanan, perdagangan ritel, jasa acara, hingga UMKM di kawasan wisata menjadi sektor yang cepat terkena dampak.
Penundaan perjalanan dapat mengurangi tingkat hunian hotel, jumlah pelanggan restoran, aktivitas transportasi wisata, hingga pendapatan pekerja harian.
Usaha yang memiliki biaya tetap tinggi tetapi bergantung pada pemasukan harian dinilai paling rentan menghadapi kondisi tersebut.
Logistik dan Industri Ikut Terancam
Dampak berikutnya dapat muncul pada sektor logistik. Pembatalan penerbangan dan perubahan rute dapat membuat sebagian barang dialihkan ke jalur darat maupun laut.
Kargo udara yang membawa barang bernilai tinggi, produk mudah rusak, obat-obatan, komponen manufaktur, serta kiriman yang membutuhkan waktu cepat menjadi salah satu sektor yang paling sensitif.
Jika pengiriman harus menggunakan moda alternatif, waktu tempuh dapat bertambah dan biaya penyimpanan maupun distribusi ikut meningkat.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, mengatakan dampak erupsi Anak Krakatau juga berpotensi merembet ke perdagangan, perikanan, serta usaha jasa di wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Industri manufaktur juga perlu diperhatikan, terutama perusahaan yang bergantung pada pasokan bahan baku dengan sistem just-in-time.
Menurut Ronny, satu penerbangan yang dibatalkan dapat memberikan efek berantai terhadap hotel, restoran, transportasi darat, perdagangan, hingga berbagai jasa pendukung.
Harga Barang Bisa Ikut Naik
Gangguan transportasi dalam waktu singkat belum tentu menyebabkan inflasi nasional secara signifikan. Namun, kenaikan harga dan kelangkaan barang tertentu di wilayah terdampak tetap perlu diantisipasi.
Pangan segar, obat-obatan, barang bernilai tinggi, dan komoditas yang sangat bergantung pada konektivitas udara dinilai lebih rentan mengalami tekanan harga.
Apabila perusahaan harus menggunakan jalur distribusi yang lebih mahal dalam waktu lama, kenaikan biaya tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui harga jual.
Meski demikian, Indonesia memiliki sistem logistik multimoda sehingga gangguan penerbangan tidak otomatis menghentikan seluruh distribusi nasional.
Masalah dapat menjadi lebih serius apabila gangguan berlangsung lama dan kapasitas moda pengganti seperti transportasi laut maupun darat tidak mampu menampung perpindahan barang.
UMKM dan Pekerja Informal Paling Rentan
Kelompok yang paling rentan terdampak adalah pelaku usaha dan pekerja yang sangat bergantung pada aktivitas harian.
Mereka antara lain pekerja informal, pengemudi, pedagang kecil, pemandu wisata, pekerja restoran, pemilik homestay, nelayan, pelaku UMKM pariwisata, hingga perusahaan logistik.
Hilangnya aktivitas selama beberapa hari saja dapat langsung mengurangi pendapatan kelompok tersebut karena tidak semuanya memiliki cadangan keuangan yang cukup.
Karena itu, dampak ekonomi bencana tidak hanya perlu dihitung dari kerusakan aset, tetapi juga dari hilangnya pendapatan masyarakat dan aktivitas usaha.
Pemerintah Diminta Bergerak Lebih Cepat
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, pemerintah dinilai perlu menjaga mobilitas masyarakat, kelancaran rantai pasok, serta daya beli warga yang terdampak.
Pemerintah juga perlu menyiapkan jalur transportasi alternatif dan memastikan distribusi pangan, energi, obat-obatan, serta kebutuhan pokok tetap berjalan.
Selain itu, dukungan sementara bagi UMKM dan pekerja yang kehilangan pendapatan dapat diberikan secara terarah.
Ronny juga mendorong pemerintah membangun sistem pemantauan terpadu yang menggabungkan informasi penerbangan, pelabuhan, jalan, stok pangan, harga komoditas, dan kapasitas distribusi.
Langkah tersebut dinilai penting agar pemerintah dapat mengambil tindakan berdasarkan peringatan dini sebelum gangguan berkembang menjadi persoalan ekonomi yang lebih besar.
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap ekonomi Indonesia pada akhirnya sangat bergantung pada luas wilayah dan durasi gangguan. Jika kondisi segera normal, dampak nasional diperkirakan relatif terbatas.
Namun, gangguan yang berkepanjangan dan berulang dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap konsumsi, perdagangan, investasi, produktivitas, serta pendapatan masyarakat.
Riky






