MimbarJurnalis.com, BATAM – Tawaran pekerjaan di luar negeri yang awalnya terlihat menjanjikan justru membawa lima warga Batam, Kepulauan Riau, ke situasi sulit di Kamboja. Mereka mengaku berangkat dengan harapan bekerja secara legal, namun sebagian justru ditempatkan sebagai operator penipuan daring atau scam.
Salah satu di antaranya adalah Muhammad Sahrizal (28). Ia mengaku berangkat ke Kamboja dengan tawaran pekerjaan di bengkel. Namun setelah tiba, pekerjaan yang dijalani ternyata berbeda dari yang dijanjikan.
Sahrizal kini berada di Phnom Penh bersama empat warga Batam lainnya. Mereka masih menunggu bantuan untuk dapat kembali ke Indonesia karena tidak lagi memiliki biaya untuk perjalanan pulang.
“Kendala kami di penampungan, dan pengen pulang. Karena enggak ada sepeser uang lagi,” kata Sahrizal seperti dikutip kompas, Jumat (18/9/2026).
Menurut Sahrizal, keinginan mereka saat ini sederhana, yakni kembali ke Tanah Air.
“Kami minta pulang. Pulang aja,” ujarnya.
Tawaran kerja bengkel berubah menjadi pekerjaan scam
Sahrizal bukan pertama kali bekerja di Kamboja. Pada 2022, ia pernah berangkat melalui agen perorangan dan bekerja di sebuah bengkel.
Saat itu, ia mengaku tidak mengalami persoalan berarti. Pekerjaan berjalan normal dan gajinya juga diterima tanpa pemotongan.
“Kalau masalah di bengkel gaji aman, enggak ada dipotong,” katanya.
Setelah sempat kembali ke Batam, Sahrizal kembali berangkat ke Kamboja pada 29 Mei 2024. Niatnya untuk melanjutkan sekaligus menyelesaikan kontrak pekerjaan sebelumnya.
Namun, kondisi yang ditemuinya kali ini berbeda.
“Tawaran awal itu memang bengkel. Kan di Batam saya kerja di bengkel. Kami ini kan awalnya kerja bengkel, tapi sampai sini scam,” tutur Sahrizal.
Ia mengaku baru mengetahui bahwa dirinya akan ditempatkan dalam pekerjaan yang berkaitan dengan penipuan daring setelah berada di Kamboja.
Visa habis, upaya pulang justru berujung masalah
Keinginan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut kemudian menghadapi persoalan lain. Sahrizal mengatakan visa yang digunakannya ternyata telah habis masa berlaku.
Menurut pengakuannya, visa tersebut merupakan visa pelancong yang hanya diurus untuk satu bulan.
Ketika meminta persoalan dokumen tersebut diselesaikan, ia justru mendapat informasi bahwa dirinya akan diantar menggunakan mobil menuju perbatasan.
“Saat ingin pulang ternyata visa saya sudah habis. Lalu ketika saya menanyakan mengapa tidak diurus, katanya mau diantar oleh sopir ke border,” ujarnya.
Sahrizal kemudian mengikuti sopir tersebut. Namun, ia mengaku perjalanan kendaraan tidak menuju perbatasan seperti yang sebelumnya disampaikan.
“Ketika saya naik mobil ternyata sopir mengantarkan saya bukan ke border, tapi ke arah lain yang saya tidak tahu tujuannya,” katanya.
Mengaku melawan lalu berhasil melarikan diri
Sahrizal mengaku mulai curiga dirinya akan kembali dibawa ke lokasi lain. Ia kemudian melakukan perlawanan hingga akhirnya berhasil melarikan diri.
Setelah berhasil kabur, ia mengambil paspornya dan menuju Phnom Penh.
Pada 4 Juni 2025, Sahrizal mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk melaporkan persoalan yang dialaminya.
Kini, ia tidak sendirian. Empat warga Batam lainnya juga berada di penampungan dan menghadapi persoalan serupa terkait kepulangan.
Menurut Sahrizal, kelima warga tersebut memang berangkat melalui agen yang berbeda. Namun, mereka memiliki pola pengalaman yang hampir sama, yakni mendapat tawaran pekerjaan sebelum berangkat ke Kamboja.
Sebagian bahkan hanya sempat bekerja selama satu hingga dua bulan.
“Singkat-singkat, ada yang dua bulan, sebagian ada yang sebulan,” katanya.
Lima warga Batam hanya menunggu bisa pulang
Selama berada di penampungan, kebutuhan sehari-hari mereka masih mendapat bantuan. Persoalan terbesar saat ini adalah biaya untuk kembali ke Indonesia.
Sahrizal mengatakan mereka tidak memiliki uang untuk membiayai perjalanan pulang ke Batam.
Di tengah ketidakpastian tersebut, kerinduan terhadap keluarga semakin kuat. Salah satu hal yang membuatnya semakin ingin segera pulang adalah pesan dari orangtuanya di Batam.
“Posisi orangtua sampaikan kayak gini, ‘mau sampai kapan enggak pulang? Apa tunggu orangtua sudah meninggal dulu baru kalian datang?’ Nah, di situ aku langsung down dan mau pulang,” tuturnya.
Sahrizal bersama empat warga Batam lainnya kini masih menunggu kepastian mengenai proses pemulangan dari Kamboja.
Mereka berharap ada bantuan sehingga dapat segera meninggalkan penampungan dan kembali berkumpul bersama keluarga di Batam.
Kisah tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi calon pekerja migran agar lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja ke luar negeri, terutama apabila proses perekrutan, jenis pekerjaan, dokumen perjalanan, dan pihak yang memberangkatkan tidak jelas.
Tian






