MimbarJurnalis.com, NEPAL — Bencana dahsyat yang melanda wilayah utara Nepal berubah menjadi tragedi kemanusiaan besar. Korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor dilaporkan mencapai 1.056 orang, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.
Hingga Selasa (1/9/2026), proses pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan setelah banjir bandang menerjang kawasan di sepanjang Sungai Bhote Koshi pada Rabu (26/8/2026).
Laporan China Central Television (CCTV) yang mengutip kepolisian Nepal menyebutkan jumlah korban meninggal dunia terus bertambah. Bencana tersebut dipicu derasnya aliran air dari wilayah China yang kemudian menerjang kawasan Sungai Bhote Koshi.
Situasi semakin parah setelah gempa bumi memicu tanah longsor di sejumlah wilayah. Kombinasi banjir bandang dan longsor menyebabkan akses menuju lokasi terdampak rusak serta menyulitkan tim penyelamat melakukan pencarian korban.
Ribuan Orang Masih Hilang
Skala bencana Nepal terlihat dari jumlah warga yang hingga kini belum ditemukan.
Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, menyampaikan bahwa berdasarkan data hingga 31 Agustus 2026, sebanyak 2.426 orang masih dinyatakan hilang.
Sementara itu, sebanyak 4.451 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan 101 orang lainnya masih mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Kementerian Luar Negeri Nepal sebelumnya juga melaporkan sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara masih dinyatakan hilang akibat bencana tersebut.
Gangguan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah menjadi salah satu kendala utama dalam proses pencarian dan pendataan korban. Kondisi ini membuat jumlah korban maupun warga yang hilang kontak masih berpotensi berubah.
Turis Asing Ikut Terdampak
Bencana banjir bandang dan longsor juga berdampak terhadap wisatawan asing yang berada di kawasan terdampak.
Data yang diterima Kemlu RI menyebutkan 184 turis asing berhasil diselamatkan, sementara sekitar 420 turis asing lainnya masih belum dapat dikontak akibat gangguan jaringan komunikasi.
Kondisi tersebut membuat otoritas Nepal bersama berbagai pihak terus melakukan penelusuran untuk memastikan keberadaan warga asing yang belum diketahui.
Medan yang rusak, longsor, serta derasnya aliran air menjadi tantangan besar bagi tim pencarian dan penyelamatan.
Kabar Baik: Seluruh WNI Dilaporkan Selamat
Di tengah situasi bencana yang masih mencekam, pemerintah Indonesia memastikan kondisi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah terdampak dalam keadaan baik.
Kemlu RI mencatat terdapat 45 WNI berstatus residen dan enam turis Indonesia yang berada di Pokhara.
Berdasarkan pemantauan hingga 31 Agustus 2026, seluruh WNI tersebut dilaporkan dalam kondisi baik.
“Seluruhnya dalam keadaan baik,” ujar Heni Hamidah dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
Kemlu RI masih berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan kondisi WNI sekaligus mengikuti proses pencarian dan evakuasi korban.
Operasi Penyelamatan Masih Berlangsung
Dengan korban tewas yang telah menembus angka 1.000 orang dan ribuan lainnya masih hilang, operasi pencarian dan penyelamatan di Nepal belum berakhir.
Tim penyelamat masih menyisir kawasan terdampak untuk menemukan korban yang belum diketahui keberadaannya sekaligus memastikan keselamatan warga yang masih bertahan di wilayah bencana.
Besarnya kerusakan infrastruktur dan gangguan komunikasi membuat proses pendataan berlangsung dinamis. Karena itu, angka korban tewas maupun hilang masih dapat berubah seiring ditemukannya korban dan pulihnya akses komunikasi.
Banjir bandang, longsor, dan gempa yang terjadi secara beruntun telah menempatkan Nepal dalam salah satu situasi bencana paling serius. Dunia kini menunggu hasil akhir operasi pencarian di tengah harapan masih adanya korban yang dapat diselamatkan.
Den






