Sekolah Ini Batasi HP, Hasilnya Bikin Kaget! Murid Lebih Fokus Belajar, Rajin Baca Buku hingga Aktif Olahraga

MimbarJurnalis.com, YOGYAKARTA – Pemandangan murid yang asyik menatap layar ponsel saat jam istirahat kini tak lagi terlihat di SMP Bumi Cendekia Yogyakarta. Setelah menerapkan pembatasan penggunaan gawai sesuai Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Nomor 18 Tahun 2026, suasana sekolah berubah drastis. Murid kini lebih banyak bermain bersama teman, berolahraga, hingga menghabiskan waktu dengan membaca buku.

Kebijakan yang diterapkan sekolah tersebut bukan berarti melarang penggunaan teknologi. Sebaliknya, laptop, telepon genggam, hingga kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tetap dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran, namun hanya digunakan sesuai kebutuhan dan di bawah pengawasan guru.

Kepala SMP Bumi Cendekia Yogyakarta, Wisnu Utomo, menjelaskan bahwa murid tetap diperbolehkan membawa laptop maupun telepon genggam ke sekolah. Namun, penggunaannya diatur secara ketat agar tidak mengganggu proses belajar.

“Laptop hanya digunakan satu hari dalam sepekan, sedangkan telepon genggam dipakai sesuai kebutuhan pembelajaran dengan pengawasan guru. Kami mendukung penuh Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026. Yang terpenting bukan melarang gawainya, tetapi membangun etika dalam menggunakannya,” ujar Wisnu di Yogyakarta, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, sebelum aturan tersebut diterapkan, penggunaan laptop hampir setiap hari justru membuat konsentrasi murid mudah terpecah. Guru juga memerlukan waktu lebih lama untuk memulai pembelajaran karena perhatian murid masih tertuju pada perangkat digital mereka.

Kini, perubahan positif mulai terlihat. Murid menjadi lebih siap mengikuti pelajaran ketika guru masuk kelas, lebih aktif berinteraksi dengan teman, gemar berolahraga, serta semakin sering memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku.

Guru Bahasa Indonesia SMP Bumi Cendekia, Triana Ratnasari, menegaskan bahwa teknologi tetap menjadi sumber belajar yang penting. Dalam pembelajaran drama, misalnya, murid menonton contoh pementasan melalui YouTube. Saat mempelajari materi berita, mereka mencari informasi menggunakan gawai, kemudian menulis analisis dan tanggapan secara manual.

“Anak-anak tetap memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar. Yang kami latih adalah bagaimana mereka mengolah informasi dan menyampaikan pendapatnya sendiri, bukan bergantung pada teknologi,” jelas Triana.

Ia juga mengungkapkan bahwa para murid telah mengenal teknologi AI. Namun, dengan adanya pembatasan penggunaan gawai dan sebagian besar tugas diselesaikan di sekolah, AI digunakan secara lebih bijak sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sekadar jalan pintas menyelesaikan tugas.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa kebijakan pembatasan penggunaan gawai bertujuan membentuk kebiasaan sehat dalam memanfaatkan teknologi sejak usia dini.

“Kami telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai. Tujuannya agar murid terbiasa menggunakan handphone hanya sebagai alat pendukung pembelajaran, sehingga tidak muncul ketergantungan yang berlebihan,” ujar Fajar saat berada di Yogyakarta, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental peserta didik di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Ia menekankan bahwa keberhasilan penerapan aturan ini membutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan seluruh ekosistem pendidikan.

Perubahan tersebut turut dirasakan para murid. Gian Aji Alfatarazi, siswa kelas IX, mengaku kini lebih sering bermain sepak bola dan membaca novel, termasuk novel berbahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan bahasanya.

Hal serupa disampaikan Reksa. Meski sempat kecewa saat penggunaan laptop dibatasi, ia kini justru lebih sering berdiskusi dengan teman dan memahami bahwa kebijakan tersebut membawa dampak positif bagi proses belajar.

Penerapan pembatasan penggunaan gawai di SMP Bumi Cendekia Yogyakarta menjadi contoh bahwa teknologi tidak harus dijauhkan dari dunia pendidikan. Dengan aturan yang tepat, teknologi tetap dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengurangi interaksi sosial, konsentrasi belajar, maupun kebiasaan positif murid di lingkungan sekolah.

-Arif Adha Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *