MimbarJurnalis.com, BOGOR – Kabar baik akhirnya datang bagi SDN Cadasleeur di Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Setelah menjadi sorotan akibat kondisi bangunan yang memprihatinkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinas Pendidikan (Disdik) memastikan sekolah tersebut akan segera menjalani rehabilitasi tahap awal.
Perbaikan difokuskan pada penggantian plafon, genting, serta perbaikan tembok yang mengalami kerusakan demi menjamin keselamatan para siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Kepala SDN Cadasleeur, Juju Juhaeriah, mengatakan pembahasan rehabilitasi sempat berlangsung cukup panjang. Namun, prioritas utama saat ini adalah menyelamatkan bangunan agar tidak membahayakan siswa.
“Prosesnya tadi panjang. Intinya ada pembahasan rehabilitasi bertingkat, tetapi yang terpenting sekarang penyelamatan dahulu melalui rehab biasa seperti mengganti plafon, genting, dan memperbaiki tembok,” ujar Juju, Kamis (23/7/2026).
Meski begitu, rehabilitasi awal belum mampu mengatasi persoalan utama yang dihadapi sekolah. Saat ini SDN Cadasleeur memiliki 265 siswa yang terbagi dalam sembilan rombongan belajar (rombel), sementara hanya tiga ruang kelas yang masih dinilai layak digunakan.
Akibat keterbatasan tersebut, proses belajar mengajar harus dilakukan secara bergantian antara pagi dan siang. Bahkan sebagian siswa terpaksa belajar di ruang PAUD, musala, hingga ruangan dengan atap yang hanya ditutup menggunakan terpal.
“Jumlah murid kami 265 orang dengan sembilan rombongan belajar. Ruang kelas yang layak hanya tiga, jadi pembelajaran harus dibagi pagi dan siang,” jelas Juju.
Kondisi bangunan yang rapuh juga pernah memakan korban. Seorang siswa dilaporkan sempat tertimpa material bangunan yang jatuh dari bagian atas ruang kelas. Beruntung insiden tersebut tidak menyebabkan luka serius.
Karena alasan keselamatan, pihak sekolah beberapa kali meliburkan siswa ketika proses pembongkaran ruangan dilakukan atau saat kondisi bangunan dinilai terlalu berbahaya.
“Kalau khawatir material mengenai anak-anak, mereka diliburkan dahulu. Kemarin pernah libur sehari karena ruangan mau dibongkar. Memang pernah ada anak yang terkena material dari atas,” katanya.
Di tengah keterbatasan fasilitas, para guru tetap berupaya memberikan pembelajaran maksimal dengan berbagi ruang dan menyesuaikan jadwal belajar. Mereka juga harus terus memantau kondisi plafon, genting, serta dinding yang mulai rapuh demi menghindari risiko kecelakaan.
Juju berharap rehabilitasi tidak berhenti pada perbaikan ringan. Mengingat keterbatasan lahan sekolah, pembangunan gedung bertingkat dinilai menjadi solusi terbaik untuk menambah ruang belajar.
Ia juga berharap PT Antam dapat membantu melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Namun, menurutnya, pembangunan berskala besar masih harus menunggu persetujuan dari kantor pusat perusahaan.
“Kalau dari Antam, mereka tidak bisa langsung karena biayanya besar dan harus dilaporkan ke pusat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Kabupaten Bogor, Yanto Pradipta, mengatakan pihaknya telah meninjau langsung kondisi SDN Cadasleeur dan memastikan rehabilitasi segera dilakukan.
Disdik mengalokasikan anggaran sekitar Rp400 juta dari APBD Kabupaten Bogor untuk merehabilitasi tiga ruang kelas yang mengalami kerusakan kategori sedang.
“Kami menerima laporan ada sekolah yang mengalami kerusakan. Karena itu, hari ini kami langsung turun untuk mengecek kondisi fasilitas pendidikan di SDN Cadasleueur,” kata Yanto.
Menurutnya, prioritas utama pemerintah adalah memastikan keamanan siswa sehingga kegiatan belajar mengajar dapat tetap berlangsung.
“Kami fokus melakukan perbaikan dan penyelamatan anak-anak sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan terlebih dahulu,” tegasnya.
Selain rehabilitasi ruang kelas, Disdik juga tengah berkoordinasi dengan PT Antam agar dana CSR dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sarana pendukung, termasuk toilet sekolah.
Meski proses rehabilitasi mulai berjalan, perjuangan 265 siswa SDN Cadasleeur belum berakhir. Hingga ruang kelas baru benar-benar terbangun, mereka masih harus belajar secara bergantian, memanfaatkan ruang seadanya, bahkan berada di bawah atap yang hanya dilindungi terpal.
-Arif Adha Saputra






