Harga Minyak Diprediksi Turun 2027, Purbaya Ungkap Dampaknya ke Penerimaan Negara

MimbarJurnalis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan harga minyak akan mengalami moderasi pada 2027. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah menetapkan asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) lebih rendah dalam RAPBN 2027.

Pemerintah menetapkan target ICP 2027 sebesar US$75 per barel, lebih rendah dibandingkan outlook 2026 yang berada di kisaran US$75-US$85 per barel.

Penurunan asumsi harga minyak tersebut berpotensi menekan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam (SDA), khususnya migas.

Berdasarkan sensitivitas APBN, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel diperkirakan dapat menambah penerimaan negara sekitar Rp3 triliun, meningkatkan belanja Rp11,4 triliun, sekaligus memperlebar defisit sekitar Rp8,5 triliun.

Purbaya mengatakan asumsi harga minyak dalam RAPBN 2027 memang lebih rendah dibandingkan harga minyak aktual saat ini. Namun, pemerintah masih optimistis penerimaan SDA migas dapat didorong.

“Saya yakin nanti kita bisa dorong ke arah pertumbuhan positif,” ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta International Convention Center (JICC), sebagaimana dikutip Senin (24/8/2026).

PNBP Migas Ditargetkan Rp129,9 Triliun

Dalam Buku II Nota Keuangan dan RAPBN 2027, pemerintah menetapkan target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari SDA migas sebesar Rp129,9 triliun.

Target tersebut masih lebih tinggi dibandingkan realisasi PNBP SDA migas pada 2023 sebesar Rp120,8 triliun, 2024 sebesar Rp115,4 triliun, dan 2025 sebesar Rp107,5 triliun.

Namun, target 2027 tersebut turun sekitar 5,9 persen dibandingkan outlook PNBP SDA migas 2026 yang diproyeksikan mencapai Rp138,1 triliun.

Harga minyak dunia sendiri sempat mengalami kenaikan akibat perang Amerika Serikat dan Iran.

Harga Batu Bara Bisa Ikut Turun

Selain migas, pemerintah juga memperkirakan perubahan harga minyak dapat memengaruhi komoditas ekspor Indonesia, termasuk batu bara.

Target PNBP SDA nonmigas yang mencakup pertambangan mineral dan batu bara, kehutanan, kelautan dan perikanan, serta panas bumi justru meningkat.

Dari outlook 2026 sebesar Rp141,9 triliun, penerimaan SDA nonmigas pada 2027 ditargetkan mencapai Rp153,4 triliun atau meningkat sekitar Rp10 triliun.

Meski demikian, Purbaya memperkirakan harga batu bara berpotensi ikut melandai apabila harga minyak turun.

“Dugaan saya memang dari asumsi harga minyak akan lebih rendah US$75 per barel kan. Batu bara juga kan harusnya turun dari asumsi itu ya. Tetapi aktualnya [sekarang] belum seperti itu,” tuturnya.

Total PNBP 2027 Turun

Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan PNBP dalam RAPBN 2027 sebesar Rp517,4 triliun.

Angka tersebut turun sekitar 10 persen dibandingkan outlook PNBP 2026 yang mencapai Rp575,14 triliun.

Pada 2026, realisasi PNBP diproyeksikan mencapai Rp575,1 triliun. Angka tersebut jauh melampaui target APBN 2026 sebesar Rp459,2 triliun atau mencapai sekitar 125,2 persen dari target.

Pemerintah kini mengandalkan penguatan penerimaan dari berbagai sektor untuk menjaga kinerja PNBP di tengah proyeksi moderasi harga minyak pada 2027.

-Arif Adha Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *