MimbarJurnalis.com, BATAM — Dugaan aktivitas penambangan pasir di kawasan Nongsa–Sambau, Kota Batam, menjadi perhatian nelayan Pulau Putri. Sejumlah warga mendatangi lokasi setelah sebuah video mengenai dugaan pengerukan dan pencucian pasir beredar di media sosial.
Video tersebut diunggah melalui akun Nelayan Pulau Putri. Rekaman itu memperlihatkan area lahan terbuka yang sebagian vegetasinya telah berubah menjadi hamparan tanah berpasir. Dalam narasi video, aktivitas tersebut disebut sebagai penambangan pasir yang berlangsung di kawasan pesisir.
Ketua Nelayan Pulau Putri bersama sejumlah warga kemudian mendatangi lokasi untuk melihat langsung kondisi lahan.
Nelayan Memeriksa Lokasi
Seorang nelayan yang ikut mendatangi lokasi mengatakan warga ingin memastikan aktivitas yang berlangsung di kawasan tersebut.
“Kami perlu melihat sendiri apa yang terjadi di daratan kami. Jika benar ada penambangan ilegal, ini bukan hanya soal tanah yang hilang, tapi masa depan ekosistem pesisir kami yang terancam,” kata nelayan tersebut.
Menurut dia, masyarakat pesisir memiliki kekhawatiran terhadap kemungkinan dampak aktivitas pengerukan terhadap lingkungan sekitar dan wilayah tangkap nelayan.
Namun, hingga informasi ini disusun, belum ada keterangan resmi mengenai status aktivitas di lokasi tersebut. Belum diketahui pula siapa pihak yang bertanggung jawab atas kegiatan pengerukan maupun status perizinannya.
Kekhawatiran terhadap Lingkungan
Kondisi lahan yang terlihat dalam video memunculkan kekhawatiran mengenai dampak perubahan kontur tanah dan vegetasi di kawasan tersebut.
Warga meminta pemerintah dan instansi terkait memeriksa langsung kondisi di lapangan, termasuk memastikan apakah kegiatan yang berlangsung telah memenuhi ketentuan perizinan dan lingkungan.
Perubahan struktur lahan, terutama di kawasan yang memiliki kontur perbukitan, dapat meningkatkan risiko erosi apabila tidak disertai pengelolaan dan mitigasi yang memadai.
Nelayan juga menyoroti kemungkinan dampak terhadap kawasan pesisir.
Vegetasi pesisir memiliki fungsi ekologis, termasuk membantu menjaga kondisi tanah dan melindungi kawasan pantai. Karena itu, warga meminta setiap aktivitas pembukaan lahan atau pengerukan diperiksa dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
Nelayan Khawatir Dampak ke Laut
Bagi nelayan Pulau Putri, persoalan yang paling menjadi perhatian adalah kemungkinan masuknya material dari aktivitas di daratan ke perairan sekitar.
Mereka meminta pemerintah memeriksa apakah terdapat aktivitas pencucian pasir dan bagaimana pengelolaan material sisa dari kegiatan tersebut.
Nelayan khawatir sedimentasi dalam jumlah besar dapat berdampak terhadap ekosistem perairan dan wilayah tangkap mereka.
“Kalau lingkungan laut terganggu, dampaknya langsung kami rasakan. Laut adalah tempat kami mencari nafkah,” kata salah seorang warga.
Masyarakat Minta Pemerintah Memberikan Penjelasan
Viralnya video tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan di kalangan masyarakat.
Siapa pemilik lahan yang kini menjadi sorotan? Aktivitas apa yang sebenarnya dilakukan di lokasi tersebut? Dan apakah kegiatan itu telah memiliki izin serta memenuhi ketentuan lingkungan?
Warga meminta Polresta Barelang, instansi yang membidangi energi dan sumber daya mineral, serta Dinas Lingkungan Hidup melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Mereka berharap pemeriksaan dilakukan tidak hanya terhadap dokumen perizinan, tetapi juga kondisi di lapangan dan potensi dampak aktivitas tersebut terhadap lingkungan.
Apabila ditemukan pelanggaran, masyarakat meminta pihak berwenang mengambil tindakan sesuai dengan ketentuan hukum.
Sebaliknya, jika aktivitas tersebut memiliki izin resmi, warga meminta pemerintah dan pihak terkait memberikan penjelasan kepada publik untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul.
Kini, perhatian masyarakat tertuju pada kawasan Nongsa–Sambau. Video yang beredar telah memunculkan dugaan adanya aktivitas penambangan pasir. Namun, kepastian mengenai jenis kegiatan, pihak yang bertanggung jawab, serta legalitasnya masih menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan resmi dari instansi berwenang.
Tian






