Kabut Asap Bikin Laut Natuna Seperti Menghilang, Aktivitas Nelayan Kesulitan Cari Ikan

MimbarJurnalis.com, NATUNA – Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan ikut berdampak hingga ke Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Kabut asap yang menyelimuti wilayah perairan Natuna membuat jarak pandang nelayan sangat terbatas. Aktivitas melaut pun terganggu karena sejumlah nelayan kesulitan menentukan arah ketika berada di tengah laut.

Salah seorang nelayan Natuna, Zubian Toni, mengatakan kabut asap sudah dirasakan selama sekitar sepekan terakhir. Kondisi tersebut membuat pandangan di laut semakin terbatas.

Menurut dia, ketika nelayan berlayar sekitar tiga mil dari Pulau Natuna, kawasan di sekitarnya sudah tertutup kabut asap.

“Kami ikut terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan,” kata Zubian Toni, seperti dikutip cnnindonesia, Senin (24/8/2026).

Kabut Asap Tutup Pandangan, Nelayan Natuna Andalkan GPS

Toni mengatakan kondisi kabut membuat nelayan kesulitan melihat pulau maupun tanda-tanda alam yang biasanya digunakan sebagai petunjuk arah.

Dalam kondisi tersebut, sejumlah nelayan hanya bisa mengandalkan perangkat Global Positioning System atau GPS untuk menentukan posisi dan arah pelayaran.

“Sudah seminggu ini, Bang, tidak hilang kabutnya,” ujarnya.

Kabut asap menjadi persoalan serius bagi nelayan karena aktivitas mencari ikan tidak hanya bergantung pada kondisi mesin dan kapal, tetapi juga kemampuan melihat arah serta kondisi sekitar.

Jarak Pandang Disebut Tinggal 0,5 Mil

Keluhan serupa disampaikan nelayan lain di Pulau Subi, Natuna, Hariadi.

Ia mengatakan kabut asap membuat nelayan yang tidak memiliki perangkat navigasi seperti GPS atau aplikasi penunjuk arah di telepon genggam menghadapi kesulitan lebih besar.

Biasanya, nelayan dapat menggunakan pulau, pal atau tanda di laut sebagai petunjuk saat siang hari. Sementara pada malam hari, lampu suar hingga bintang dapat menjadi panduan.

Namun, keberadaan kabut asap membuat sejumlah penanda tersebut sulit terlihat.

Hariadi mengatakan jarak pandang dalam kondisi kabut tebal bahkan hanya mencapai sekitar 0,5 mil laut, jauh berkurang dibandingkan kondisi normal yang menurutnya dapat mencapai sekitar 8 mil laut.

“Tentunya sangat menyulitkan,” katanya.

Bukan Hanya Navigasi, Mencari Ikan Pun Jadi Lebih Sulit

Dampak kabut asap tidak berhenti pada persoalan navigasi.

Nelayan yang mencari ikan tuna dan tongkol juga mengaku kesulitan menemukan lokasi gerombolan ikan.

Menurut Hariadi, nelayan biasanya menggunakan sejumlah tanda alami untuk memperkirakan keberadaan ikan, seperti gemercik air akibat pergerakan gerombolan ikan atau keberadaan burung camar yang berburu mangsa.

Namun, ketika laut tertutup kabut asap, tanda-tanda tersebut menjadi lebih sulit diamati.

“Kalau ketemu gerombolan ikan tongkol, tapi terhalang dengan kabut asap, ini yang sulit akibat kabut asap,” ujarnya.

Kondisi Kabut Asap di Natuna Mulai Berkurang

Meski sempat cukup parah dalam beberapa hari terakhir, Hariadi mengatakan kondisi kabut asap di wilayah Natuna mulai berkurang pada Minggu, 23 Agustus 2026.

Menurut dia, angin yang lebih kencang membantu membawa kabut asap sehingga jarak pandang mulai membaik.

Namun, kondisi yang terjadi dalam beberapa hari sebelumnya disebut sangat mengganggu aktivitas nelayan.

Kabut asap yang menyelimuti perairan Natuna menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kebakaran.

Bagi nelayan Natuna, kabut yang menutup pandangan bukan sekadar gangguan cuaca. Kondisi tersebut dapat mempersulit navigasi, menghambat pencarian ikan, dan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Kini, para nelayan berharap kondisi udara dan jarak pandang di perairan Natuna segera kembali normal sehingga mereka dapat melaut dengan lebih aman.

Tian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *