Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pengamat: Ganti Gubernur BI Pun Belum Tentu Bisa Menyelamatkan!

MimbarJurnalis.com, JAKARTA – Pergantian pucuk kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) dinilai tidak akan langsung menjadi solusi untuk mengangkat nilai tukar rupiah yang terus tertekan. Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai siapa pun sosok yang menggantikan Gubernur BI akan menghadapi tantangan berat akibat tekanan ekonomi global dan kondisi fiskal dalam negeri.

Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Berdasarkan data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (27/7/2026), nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.960 per dolar AS, atau terdepresiasi 0,14 persen dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.935 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah bukan semata-mata dipengaruhi kebijakan Bank Indonesia, melainkan juga dipicu situasi geopolitik dunia yang belum stabil dan kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi berbagai tantangan.

“Siapa pun yang memimpin Bank Indonesia saat ini sangat sulit membuat rupiah kembali menguat. Sebab masalah geopolitik ada, lalu perekonomian di dalam negeri pun sedang carut-marut. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Ia juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Perry Warjiyo selama memimpin Bank Indonesia. Menurutnya, Perry telah berupaya maksimal menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang semakin besar.

“Pak Perry sudah bekerja keras menahan agar rupiah kembali menguat, tetapi sampai saat ini belum bisa mengangkat nilai tukar rupiah,” katanya.

Ibrahim menjelaskan, ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang. Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah membuat investor global lebih memilih memindahkan dana ke aset-aset safe haven, sehingga mata uang seperti rupiah ikut tertekan.

Selain faktor eksternal, kondisi fiskal Indonesia juga menjadi perhatian. Ibrahim menilai berbagai program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, berpotensi memengaruhi persepsi pasar apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan fiskal yang disiplin.

“Sehingga kekuatan fiskal dalam negeri ini mengalami sedikit permasalahan dan ini berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah,” pungkasnya.

Dengan kombinasi tekanan global dan tantangan fiskal domestik, Ibrahim menilai penguatan rupiah dalam waktu dekat masih menjadi pekerjaan berat. Karena itu, pergantian Gubernur Bank Indonesia saja dinilai belum cukup untuk membalikkan arah pergerakan nilai tukar tanpa dukungan kondisi ekonomi yang lebih kondusif.

Kaka Raditya Poetra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *