Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Sentuh US$100 per Barel

MimbarJurnalis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia kembali menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu meningkatnya konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan minyak global.

Mengutip CNN, harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan perdagangan minyak internasional, melonjak sekitar 7 persen hingga ditutup di level US$100,69 per barel pada Kamis (23/7). Angka tersebut menjadi penutupan tertinggi sejak 22 Mei.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan harga minyak Amerika Serikat juga menguat 6,17 persen ke level US$92,19 per barel, tertinggi sejak 4 Juni.

Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Laporan The Guardian menyebut kekhawatiran muncul setelah milisi Houthi di Yaman berpotensi mengganggu ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah. Di saat yang sama, hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas terkait jalur distribusi minyak di Selat Hormuz.

Ketegangan yang terjadi di kawasan Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb, dua jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia, membuat harga minyak terus menguat selama lima hari berturut-turut.

Pelaku pasar kini khawatir gangguan terhadap dua jalur utama tersebut dapat mempersempit pasokan minyak global dan mendorong harga minyak menembus US$120 per barel. Jika skenario tersebut terjadi, dampaknya diperkirakan akan memperberat beban ekonomi dunia yang masih menghadapi tekanan inflasi akibat tingginya biaya energi.

Di sisi lain, gejolak geopolitik turut menekan pasar saham global. Bursa saham di Amerika Serikat maupun Eropa kompak melemah karena meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik Timur Tengah serta potensi terbentuknya gelembung saham sektor kecerdasan buatan (AI).

Indeks Nasdaq, yang didominasi saham perusahaan teknologi, tercatat merosot lebih dari 2 persen. Saham Tesla bahkan anjlok hingga 12 persen setelah perusahaan melaporkan laba yang berada di bawah ekspektasi pasar, ditambah sentimen negatif terhadap besarnya belanja investasi di sektor AI.

Lonjakan harga minyak ini menjadi perhatian pelaku pasar dan pemerintah di berbagai negara karena berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga inflasi yang lebih tinggi apabila konflik di Timur Tengah terus bereskalasi.

-Arif Adha Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *