MimbarJurnalis.com, SOLOK – Pelaksanaan Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) Paninjauan periode 2026–2034 dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Tokoh masyarakat sekaligus akademisi asal Paninjauan, Fauzy Ruskam, mengingatkan masyarakat agar tidak memandang pesta demokrasi nagari hanya sebagai ajang menentukan siapa yang menang.
Menurut Fauzy, Pilwana merupakan momentum besar yang akan menentukan arah pembangunan serta kehidupan masyarakat Nagari Paninjauan selama delapan tahun ke depan.
Karena itu, masyarakat diminta menggunakan hak pilih secara sadar dan mempertimbangkan secara matang siapa sosok yang benar-benar layak diberi amanah memimpin nagari.
Paninjauan yang berada di Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menurutnya membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga memahami secara nyata berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Pemilihan wali nagari harus dipandang sebagai keputusan bersama untuk menentukan siapa yang akan diberi amanah mengurus kepentingan masyarakat, bukan hanya memilih seseorang untuk menduduki jabatan,” tegas Fauzy.
Ia menjelaskan, posisi wali nagari sangat mendasar dalam kehidupan masyarakat. Seorang wali nagari bukan hanya pejabat yang mengurus administrasi pemerintahan, tetapi juga menjadi figur penting dalam menggerakkan pembangunan, meningkatkan pelayanan publik, memberdayakan masyarakat, serta mengelola berbagai potensi yang dimiliki nagari.
Kualitas seorang pemimpin, kata Fauzy, akan menentukan apakah sumber daya dan peluang yang dimiliki Nagari Paninjauan dapat dikelola menjadi kemajuan atau justru berjalan tanpa arah.
Rekam Jejak Harus Lebih Penting dari Popularitas
Kepada masyarakat Paninjauan, Fauzy berpesan agar memilih calon wali nagari yang memiliki kepedulian nyata terhadap masyarakat, baik warga yang tinggal di kampung maupun masyarakat Paninjauan yang berada di perantauan.
Ia berharap masyarakat memberikan pilihan kepada sosok yang ikhlas mengabdi, memiliki kepedulian sosial, mau berkorban, serta telah menunjukkan kiprah nyata dalam membantu masyarakat.
Menurut Fauzy, rekam jejak harus menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan pilihan.
Masyarakat, katanya, jangan hanya terpaku pada popularitas, janji kampanye, hubungan kekerabatan maupun kepentingan sesaat.
“Pemimpin yang baik adalah mereka yang hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan, mampu mendengarkan keluhan, dan berusaha memberikan solusi yang nyata,” ujarnya.
Kampung dan Perantauan Harus Bersatu
Fauzy juga menyoroti pentingnya hubungan antara masyarakat yang berada di kampung dengan warga Paninjauan di perantauan.
Menurutnya, perantau tidak semestinya hanya dipandang sebagai sumber bantuan ketika nagari membutuhkan dana. Lebih dari itu, masyarakat perantauan harus menjadi bagian penting dari ekosistem pembangunan Nagari Paninjauan.
Wali nagari yang nantinya terpilih diharapkan mampu membangun komunikasi dan kolaborasi yang sehat dengan masyarakat Paninjauan di berbagai daerah.
Dengan kolaborasi tersebut, potensi sumber daya manusia, pengalaman, jaringan, pengetahuan hingga kekuatan ekonomi para perantau dapat dikembangkan bersama untuk kemajuan nagari.
“Hubungan kampung dan perantauan adalah kekuatan besar yang harus dikelola dengan baik untuk kepentingan bersama,” menjadi salah satu semangat yang ditekankan Fauzy.
Pesan untuk Para Calon: Passion, Excellence dan Prayer
Tidak hanya kepada masyarakat, Fauzy juga menyampaikan pesan kepada seluruh calon yang akan bertarung dalam Pilwana Paninjauan.
Ia membagikan tiga prinsip hidup yang selama ini menjadi filosofinya, yakni Be Passionate, Strive for Excellence, Keep on Praying.
Prinsip tersebut dimaknai sebagai bekerja dengan sepenuh hati, berusaha meraih hasil terbaik, serta tidak pernah berhenti memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Menurutnya, menjadi wali nagari bukanlah pekerjaan ringan. Seorang pemimpin akan berhadapan langsung dengan berbagai kepentingan, persoalan dan harapan masyarakat.
Karena itu, calon pemimpin harus memiliki semangat pengabdian, kemauan untuk terus belajar, kemampuan memperbaiki diri serta tekad untuk menghasilkan prestasi.
Selain itu, seorang pemimpin juga harus memiliki kerendahan hati dan menyadari bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manusia, tetapi juga membutuhkan pertolongan Tuhan.
Setelah Pilwana, Tidak Boleh Ada Lagi Sekat Pendukung
Fauzy menegaskan, siapa pun yang nantinya terpilih sebagai Wali Nagari Paninjauan harus mampu mengubah amanah politik menjadi pengabdian sosial.
Setelah proses pemilihan selesai, tidak boleh ada lagi sekat antara kelompok pendukung dan bukan pendukung.
Seluruh masyarakat, menurutnya, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan dan perhatian dari pemerintah nagari.
Wali nagari terpilih harus mampu menjadi pemersatu, membuka ruang komunikasi, mengelola perbedaan secara dewasa serta memastikan setiap program pembangunan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
“Ukuran keberhasilan seorang wali nagari bukan hanya berapa banyak program yang dibuat, tetapi seberapa jauh masyarakat merasakan perubahan dan manfaat dari kepemimpinannya,” tegasnya.
Masa Depan Paninjauan Ada di Tangan Pemilih
Menjelang Pilwana Paninjauan periode 2026–2034, Fauzy mengajak seluruh masyarakat menggunakan hak pilih dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Menurutnya, pemilihan kali ini harus menjadi momentum untuk menentukan pemimpin berdasarkan integritas, kepedulian, rekam jejak, kemampuan serta kesediaan berkorban untuk masyarakat.
Sebab, yang dipertaruhkan dalam Pilwana bukan hanya kemenangan seorang calon.
Lebih dari itu, masyarakat sedang menentukan arah masa depan Nagari Paninjauan dan generasi yang akan datang.
Bagi Fauzy, pemimpin sejati bukanlah mereka yang menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir, melainkan menjadikan jabatan sebagai jalan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat.
“Pilihlah orang yang peduli kepada warga Paninjauan, ikhlas mengabdi, mau berkorban, dan telah terbukti hadir ketika masyarakat membutuhkan,” demikian inti harapan Fauzy Ruskam menjelang pesta demokrasi Nagari Paninjauan.
Indra






