MimbarJurnalis.com, BATAM – Krisis air baku di Kota Batam mulai menunjukkan tanda-tanda serius, terutama di kawasan Nongsa, Batu Besar dan sekitarnya. Dalam waktu sekitar satu bulan, distribusi air dari IPAM Nongsa terus mengalami pengurangan seiring menyusutnya debit air baku di Waduk Nongsa.
Terbaru, pada Jumat, 18 September 2026, PT Air Batam Hilir bersama BU SPAM BP Batam kembali melakukan penyesuaian operasional dengan menurunkan flow distribusi air menjadi 40 liter per detik (LPS).
Tak hanya debit atau flow distribusi yang dikurangi, jam aliran kepada pelanggan di kawasan Nongsa, Batu Besar dan sekitarnya juga disesuaikan.
Kondisi tersebut membuat warga harus bersiap menghadapi kemungkinan air mengalir lebih kecil atau hanya tersedia pada jam-jam tertentu.
Dari 65 LPS Kini Tinggal 40 LPS
Penurunan distribusi air IPAM Nongsa terjadi secara bertahap.
Pada 12 Agustus 2026, flow distribusi IPAM Nongsa diturunkan menjadi 65 LPS sebagai langkah mitigasi akibat penyusutan debit air Waduk Nongsa.
Lima hari kemudian, tepatnya 17 Agustus, distribusi kembali disesuaikan menjadi 60 LPS.
Selanjutnya pada 24 Agustus, flow distribusi diturunkan menjadi 50 LPS.
Kemudian pada 8 September, kembali turun menjadi 45 LPS.
Dan terbaru pada 18 September, distribusi dipangkas lagi menjadi 40 LPS.
Jika dibandingkan dengan posisi 12 Agustus, flow distribusi tersebut telah berkurang sekitar 38,5 persen.
Rangkaian penyesuaian ini menunjukkan tekanan terhadap sumber air baku Nongsa semakin terasa.
Waduk Nongsa Susut 3,67 Meter
PT Air Batam Hilir menjelaskan bahwa penyesuaian tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keberlangsungan ketersediaan air minum di tengah fenomena El Niño dan minimnya curah hujan di wilayah Nongsa.
Ketinggian air Waduk Nongsa yang menjadi sumber air baku IPAM Nongsa disebut mengalami penyusutan cukup signifikan.
Jika elevasi normal berada di sekitar 10 meter, saat ini ketinggian air disebut tinggal sekitar 6,33 meter.
Artinya, terjadi penurunan sekitar 3,67 meter.
Minimnya hujan di area tangkapan air membuat debit air baku berkurang. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada kemampuan produksi IPAM Nongsa.
Air Batam Hilir sebelumnya menyebut pihaknya bersama BU SPAM BP Batam terus mengoptimalkan suplai dari instalasi pengolahan air lainnya untuk menjaga kontinuitas pelayanan.
Warga Mulai Bertanya: Bagaimana dengan Kebutuhan Data Center?
Di tengah persoalan tersebut, muncul pertanyaan dari masyarakat mengenai pertumbuhan industri data center di kawasan Nongsa Digital Park.
Pertanyaannya sederhana, tetapi penting: ketika sumber air baku semakin terbatas, bagaimana memastikan kebutuhan air warga tetap menjadi bagian utama dalam pengelolaan pasokan air Batam?
Data center memang membutuhkan air dalam jumlah tertentu, terutama fasilitas berskala besar yang menggunakan sistem pendinginan berbasis air.
Besarnya kebutuhan sangat bergantung pada teknologi pendinginan, kapasitas fasilitas, kondisi iklim dan tingkat efisiensi masing-masing pusat data.
Sebagai gambaran, fasilitas data center hyperscale berkapasitas besar dapat membutuhkan jutaan liter air per hari. Salah satu angka ilustratif yang disampaikan dalam kajian yang dikutip dalam pembahasan ini mencapai sekitar 3 juta liter per hari, setara kira-kira satu kolam renang Olimpiade.
Namun angka tersebut merupakan gambaran untuk fasilitas besar dan tidak otomatis menggambarkan konsumsi seluruh data center di Batam. Kebutuhan aktual setiap fasilitas perlu dilihat berdasarkan data konsumsi dan teknologi yang digunakan.
Sembilan Data Center Diproyeksikan Butuh Puluhan Juta Liter Air
Peneliti Neptun atau NP Intelligence, Dian Agustina Dian, sebelumnya mengingatkan bahwa pertumbuhan industri data center perlu diikuti dengan perencanaan sumber daya, termasuk air.
Dalam proyeksi yang disampaikannya, sembilan proyek data center di Nongsa Digital Park berpotensi membutuhkan sekitar 29 juta liter air per hari ketika beroperasi sesuai kapasitas proyeksi.
Jika angka tersebut terealisasi, kebutuhan airnya tentu menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan pasokan air Batam.
Dian juga memperkirakan keseluruhan data center yang telah beroperasi maupun direncanakan di Batam dapat menyerap sekitar 8 persen dari total pasokan air kota.
Angka 8 persen mungkin terlihat kecil secara persentase. Namun bagi kota yang sumber air bakunya sangat bergantung pada waduk tadah hujan, tambahan permintaan dalam jumlah besar menjadi isu yang perlu diperhitungkan secara serius.
Fenomena Global Jadi Peringatan
Persoalan kebutuhan air untuk data center bukan hanya terjadi di Batam.
Dian mencontohkan perkembangan data center di Virginia, Amerika Serikat, yang turut memunculkan perhatian mengenai penggunaan sumber daya air dan listrik.
Menurut data yang dikutipnya, utilitas di wilayah tersebut melaporkan penggunaan air minum oleh data center mencapai sekitar 899 juta galon sepanjang 2023.
Fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa ekspansi industri digital tidak hanya membutuhkan lahan dan energi, tetapi juga sumber daya air, tergantung teknologi yang digunakan.
Karena itu, pertumbuhan data center di Batam menjadi tantangan tersendiri bagi perencanaan infrastruktur air dalam jangka panjang.
Data Center dan Air Warga, Perlu Transparansi
Persoalan yang kini menjadi perhatian bukan semata-mata mempertentangkan kebutuhan warga dengan industri.
Yang menjadi pertanyaan adalah berapa besar konsumsi air masing-masing data center, dari mana sumber airnya, bagaimana pola penggunaannya, serta bagaimana pemerintah dan pengelola SPAM memastikan kebutuhan masyarakat tetap aman ketika sumber air baku mengalami penyusutan.
Apalagi, saat ini warga Nongsa dan Batu Besar justru menghadapi penyesuaian jam layanan serta penurunan flow distribusi.
Air Batam Hilir menyatakan langkah tersebut dilakukan karena minimnya curah hujan dan fenomena El Niño, bukan menyebut data center sebagai penyebab penyusutan Waduk Nongsa.
Karena itu, dugaan bahwa penyusutan waduk disebabkan oleh konsumsi data center perlu dibuktikan dengan data penggunaan air yang terukur, bukan sekadar asumsi.
Namun demikian, persoalan ini tetap menjadi momentum untuk membuka data secara transparan.
Booster Pump Disiapkan
Untuk mengatasi keterbatasan suplai dari Nongsa, Air Batam Hilir bersama BU SPAM BP Batam sebelumnya juga menyiapkan pemasangan booster pump.
Pompa tersebut ditujukan untuk mendorong tambahan suplai air dari IPA Duriangkang menuju wilayah Nongsa.
Pada 17 Agustus, rekayasa distribusi tersebut ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan.
Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga kontinuitas pelayanan air kepada masyarakat ketika debit Waduk Nongsa belum kembali normal.
Warga Diminta Menampung Air
Air Batam Hilir mengimbau masyarakat di Nongsa dan sekitarnya untuk mengantisipasi penyesuaian suplai dengan menampung air ketika aliran tersedia.
Masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak dan memprioritaskan kebutuhan penting.
Namun di tengah imbauan tersebut, muncul persoalan yang lebih besar bagi Batam:
Jika penduduk diminta menghemat air ketika waduk menyusut, bagaimana strategi kota menghadapi pertumbuhan industri yang juga membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar?
Batam membutuhkan jawaban berbasis data—mulai dari kapasitas waduk, konsumsi rumah tangga, kebutuhan industri, hingga konsumsi masing-masing data center.
Sebab, pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan air masyarakat pada akhirnya sama-sama membutuhkan satu hal: jaminan ketersediaan air dalam jangka panjang.
Dan ketika Waduk Nongsa sudah menyusut 3,67 meter serta flow distribusi turun dari 65 menjadi 40 LPS, persoalan air Batam bukan lagi sekadar urusan keran di rumah warga, tetapi juga menyangkut bagaimana kota ini mengelola sumber daya air di tengah ekspansi industri masa depan.
Deni
Deni






