MimbarJurnalis.com, BINTAN — Kecelakaan laut tragis terjadi di sekitar perairan Pulau Pengikik, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri). Kapal nelayan KM Putra Buluh ditabrak kapal kargo yang sedang berlayar menuju Kalimantan hingga kapal tersebut terbelah menjadi dua bagian.
Akibat kecelakaan itu, empat nelayan dilaporkan masih hilang dan hingga Selasa (11/8/2026) masih dalam pencarian tim SAR.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Tanjungpinang, Fazzli, mengatakan pihaknya menerima informasi kecelakaan tersebut pada Senin (10/8/2026) melalui Com Center Kantor SAR Tanjungpinang dari HNSI Kepulauan Riau.
“KM Putra Buluh dengan POB (person on board) sebanyak lima orang berangkat dari Tanjung Pandan, Pulau Belitung, pada Senin, 3 Agustus 2026 sekitar pukul 07.00 WIB,” kata Fazzli dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).
Berangkat dari Belitung Menuju Perairan Pengikik
KM Putra Buluh berangkat dari Tanjung Pandan, Pulau Belitung, pada 3 Agustus 2026 dengan membawa lima orang.
Kapal tersebut kemudian menuju perairan sekitar Pulau Pengikik untuk melakukan aktivitas memancing.
KM Putra Buluh berada di kawasan tersebut sejak Selasa (4/8) hingga Jumat (7/8).
Namun, perjalanan para nelayan berubah menjadi petaka pada Sabtu dini hari.
Kapal Ditabrak Kargo Saat Dini Hari
Menurut informasi yang diterima Kantor SAR Tanjungpinang, kecelakaan terjadi pada Sabtu (8/8/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.
Saat itu, KM Putra Buluh dilaporkan ditabrak sebuah kapal kargo yang sedang berlayar menuju Kalimantan.
Benturan keras menyebabkan kapal nelayan tersebut mengalami kerusakan sangat berat hingga terbelah menjadi dua bagian.
Lima orang yang berada di atas kapal pun terpisah dan harus berjuang menyelamatkan diri di tengah laut.
Satu Nelayan Selamat Mengapung dengan Tutup Fiber
Di tengah kondisi darurat tersebut, seorang ABK bernama Khairul (30) berhasil menyelamatkan diri.
Khairul menggunakan tutup fiber sebagai alat bantu apung setelah kapal yang ditumpanginya hancur akibat tabrakan.
Ia kemudian ditemukan oleh KM Lima Saudara Kandung yang melintas di sekitar lokasi dan selanjutnya dievakuasi dalam kondisi selamat.
“Khairul berhasil menyelamatkan diri dengan menggunakan tutup fiber sebagai alat bantu apung. Korban kemudian ditemukan dan dievakuasi oleh KM Lima Saudara Kandung,” ujar Fazzli.
Namun, keberhasilan Khairul menyelamatkan diri belum mengakhiri pencarian.
Empat Nelayan Masih Hilang
Empat orang lainnya hingga kini masih belum ditemukan.
Mereka masing-masing adalah Samsir Arwan (27), Andi Syamsu (53), Muhammad Irfan (28), dan Agustono (28).
Tim SAR masih melakukan upaya pencarian terhadap keempat nelayan tersebut dengan mengerahkan koordinasi lintas instansi dan jaringan komunikasi kapal di sekitar wilayah kejadian.
Kantor SAR Tanjungpinang langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak setelah menerima laporan kecelakaan.
Koordinasi dilakukan bersama SROP Tanjungpinang, KSOP Kelas II Tanjungpinang, HNSI Kepulauan Riau, Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang, serta pihak pemilik kapal.
SAR Antisipasi Korban Terbawa Arus
Pencarian juga diperluas melalui koordinasi dengan Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban bergerak atau terbawa arus ke wilayah lain sekaligus membahas dukungan unsur Kapal Negara (KN) SAR dalam operasi pencarian.
Sementara itu, SROP Tanjungpinang berkoordinasi dengan SROP Natuna dan SROP Sintete untuk memperoleh informasi mengenai pergerakan kapal di sekitar lokasi kecelakaan.
Informasi dari kapal-kapal yang melintas menjadi penting untuk membantu menemukan kemungkinan keberadaan empat nelayan yang masih hilang.
Pencarian Empat Nelayan Terus Dilakukan
Hingga Selasa (11/8/2026), Kantor SAR Tanjungpinang masih melakukan koordinasi dan pemantauan perkembangan informasi sebagai bagian dari operasi pencarian.
Kecelakaan KM Putra Buluh menjadi perhatian serius karena empat nelayan masih belum ditemukan setelah kapal mereka ditabrak kapal kargo dan terbelah menjadi dua.
Tim SAR terus berupaya menemukan keberadaan Samsir Arwan, Andi Syamsu, Muhammad Irfan, dan Agustono.
Sementara itu, informasi mengenai kapal kargo yang diduga menabrak KM Putra Buluh masih dalam penanganan dan pendalaman pihak terkait.
Ton






