Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Asia Terancam Kena Imbas Konflik Timur Tengah

MimbarJurnalis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan awal pekan, Senin (20/7/2026), menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 07.25 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2026 di New York Mercantile Exchange berada di level US$84,41 per barel, atau naik 2,33 persen dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Sementara itu, harga minyak acuan global Brent melonjak hingga 3,8 persen dan berhasil menembus US$91 per barel, menjadi level tertinggi dalam lebih dari satu bulan.

Kenaikan tajam tersebut dipicu meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah setelah serangan balasan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran meluas selama akhir pekan. Situasi ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan distribusi minyak dari kawasan penghasil energi terbesar di dunia.

Ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar beralih ke aset yang dianggap lebih aman, sementara harga komoditas energi terus terdorong naik akibat kekhawatiran terhadap pasokan global.

Analis Senior Capital.com, Kyle Rodda, menilai lonjakan harga minyak dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian, terutama bagi negara-negara di Asia yang masih bergantung pada impor energi.

“Potensi kenaikan harga minyak berisiko mengganggu aktivitas ekonomi di wilayah Asia yang rawan energi,” ujar Kyle Rodda dalam catatan risetnya.

Kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara. Biaya produksi, transportasi, hingga harga barang dan jasa diperkirakan ikut terdampak apabila tren kenaikan minyak terus berlanjut.

Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan. Jika konflik terus meningkat dan mengganggu jalur distribusi minyak global, harga minyak diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatannya.

Selain itu, lonjakan harga minyak juga menjadi perhatian bagi pemerintah dan pelaku usaha karena dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, nilai tukar mata uang, serta biaya impor energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

-Riky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *