MimbarJurnalis.com, JAKARTA – Harga emas dunia masih berada dalam tekanan setelah gagal mempertahankan penguatan di level resistance penting pada perdagangan akhir Juli 2026. Kondisi ini membuat pelaku pasar dan investor diminta mewaspadai potensi koreksi lanjutan dalam jangka pendek.
Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (31/7/2026), harga emas dunia berada di level US$ 4.042,97 per ons troi, turun 1,47 persen secara harian dan melemah 6,41 persen secara year-to-date (YtD).
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa harga emas pada grafik empat jam (H4) gagal ditutup di atas level resistance 4.120, yang menjadi sinyal penting untuk melanjutkan tren kenaikan.
“Selama harga emas masih bergerak di bawah level 4.120, peluang koreksi diperkirakan tetap lebih besar dibandingkan potensi penguatan,” ujar Geraldo, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, tekanan jual kembali mendominasi pasar setelah muncul pola swing high pada grafik jangka pendek yang memicu aksi ambil untung dari para pelaku pasar.
Meski demikian, faktor fundamental global masih memberikan dukungan terhadap harga emas. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina, serta kenaikan harga minyak dunia, membuat emas tetap diminati sebagai aset safe haven.
Di sisi lain, keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan membuat investor memilih bersikap hati-hati sambil menunggu data inflasi dan ketenagakerjaan terbaru dari Amerika Serikat.
Geraldo menyarankan investor dan trader menerapkan manajemen risiko yang disiplin. Untuk jangka pendek, tekanan jual masih perlu diwaspadai, sedangkan investor jangka panjang sebaiknya menunggu konfirmasi pemulihan harga sebelum menambah investasi.
Ia menambahkan, level support 4.026 menjadi area penting yang harus dicermati. Jika harga menembus level tersebut, peluang koreksi lebih dalam semakin terbuka. Namun, apabila support mampu bertahan, harga emas berpotensi kembali menguat atau rebound.
Secara keseluruhan, tren emas dalam jangka pendek dan menengah masih tergolong bullish, meski untuk jangka panjang pergerakannya masih berada dalam fase bearish.
-Arif Adha Saputra










