AS Kembali Serang Iran, Dua Peluncur Rudal di Pulau Larak Jadi Sasaran

MimbarJurnalis.com, SELAT HORMUZ – Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Senin (31/8/2026) dini hari setelah sempat menghentikan serangan militer selama sekitar satu bulan.

Pasukan AS dilaporkan menyerang dua peluncur rudal milik Iran yang berada di Pulau Larak, salah satu pulau kecil di kawasan strategis Selat Hormuz.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan serangan tersebut dilakukan setelah pasukan Iran terpantau bersiap melakukan peluncuran roket yang dilengkapi ranjau laut.

“Hari ini, pasukan AS menyerang dua peluncur (rudal) milik Iran di Pulau Larak,” ujar juru bicara CENTCOM seperti dikutip AFP.

Menurut CENTCOM, Garda Revolusi Iran (IRGC) terpantau sedang mempersiapkan roket yang dilengkapi ranjau laut untuk diarahkan ke kawasan Selat Hormuz.

Serangan terbaru tersebut terjadi ketika konflik antara AS dan Iran memasuki bulan keenam. Ketegangan di kawasan sebelumnya sempat mereda setelah gencatan senjata pada April.

Ketegangan di Selat Hormuz

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik tersebut. Jalur perairan ini sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Iran disebut telah memblokir Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari.

Di tengah situasi tersebut, AS juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Pemerintahan Presiden Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir lebih banyak mengandalkan tekanan ekonomi dibandingkan operasi militer langsung.

Juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Tim Hawkins, mengatakan pasukan AS sebelumnya telah menyelesaikan pembersihan ranjau laut dari jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut.

“Pekan lalu, CENTCOM telah merampungkan pembersihan ranjau laut dari jalur pelayaran internasional di selat tersebut,” kata Hawkins.

“Pasukan AS terus memantau wilayah tersebut dengan cermat dan senantiasa siap melindungi kelancaran arus perdagangan melalui jalur perairan vital ini,” lanjutnya.

Upaya Damai Belum Berhasil

Sejumlah upaya diplomatik yang melibatkan mediator, termasuk Pakistan dan Qatar, telah dilakukan selama berbulan-bulan untuk mengakhiri konflik. Namun, hingga kini belum tercapai kesepakatan damai final.

Gencatan senjata pada April memang mengakhiri pertempuran paling sengit. Namun, serangan sporadis, khususnya di sekitar Selat Hormuz, kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan perdamaian.

AS juga menerapkan tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk melalui blokade tandingan terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Kondisi tersebut turut mempersempit pasokan bahan bakar di tengah keterbatasan produksi domestik Iran.

Kebijakan pemerintahan Trump mendapat kritik dari sejumlah politikus AS. Senator AS Jack Reed pada Jumat (28/8/2026) menilai konflik yang telah berlangsung selama enam bulan belum menghasilkan tujuan yang diharapkan.

“Enam bulan berlalu, tidak ada satu pun tujuan yang tercapai,” ujar Reed.

 

Ia menilai kebijakan tersebut justru berpotensi melemahkan posisi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah maupun di mata dunia.

-Arif Adha Saputra