MimbarJurnalis.com, HIMACHAL PRADESH — Seorang turis asal India mengeluhkan pengalaman yang dialaminya saat mengunjungi sejumlah kafe dan restoran di Dharamkot, Himachal Pradesh. Melalui unggahan di media sosial, ia mengaku mendapat perlakuan berbeda dan merasa kurang dihargai dibandingkan wisatawan asing.
Turis tersebut mengatakan dirinya datang ke Dharamkot dengan antusias setelah melihat berbagai rekomendasi serta video mengenai kawasan pegunungan tersebut. Namun, pengalaman yang didapat ketika berada di lokasi disebut tidak sesuai dengan ekspektasinya.
“Sebagai orang India, jujur saja saya merasa seperti warga negara kelas tiga di sana,” tulisnya dalam unggahan yang dikutip NDTV.
Ia mengaku mengalami sejumlah kejadian yang membuatnya merasa tidak diterima ketika mengunjungi kafe dan restoran. Bahkan, menurut pengakuannya, rombongannya beberapa kali ditolak masuk ke restoran di kawasan tersebut.
Pengalaman lain yang disorot terjadi ketika rombongannya akhirnya mendapatkan tempat duduk di sebuah restoran. Ia mengklaim melihat wisatawan Israel memperoleh pelayanan lebih cepat meski memesan menu yang sama dan rombongannya disebut telah memesan terlebih dahulu.
“Yang lebih menyakitkan adalah melihat turis Israel mendapatkan makanan mereka lebih dulu, padahal kami memesan menu yang sama persis sebelum mereka,” tulisnya.
Awalnya, turis tersebut menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang mungkin terjadi secara kebetulan. Namun, setelah mengaku melihat situasi serupa berulang kali, pengalaman tersebut mulai memengaruhi kenyamanannya selama berada di Dharamkot.
Keluhan mengenai dugaan perlakuan berbeda terhadap wisatawan India di kawasan wisata Himachal Pradesh sebelumnya juga pernah muncul. Pada 2015, sebuah kafe di desa Kasol, Himachal Pradesh, menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai dugaan kebijakan yang membatasi pelanggan berdasarkan penampilan atau asal mereka.
Kafe Freekasol ketika itu dilaporkan menyajikan makanan Israel dan disebut banyak dikunjungi wisatawan Israel. Seorang perempuan India bernama Ritika mengaku pernah ditolak masuk ketika datang bersama pasangannya yang berkewarganegaraan Inggris.
Ritika mengatakan dirinya mendapat alasan bahwa kafe tersebut hanya diperuntukkan bagi anggota. Namun, menurut kesaksiannya, ketika pasangannya yang berkulit putih datang dan meminta menu, ia justru diberikan menu.
“Pelanggannya semuanya berkulit putih. Sebagian besar pengunjung adalah orang Israel,” kata pasangan Ritika, Stefan, seperti diberitakan Channel 10 News pada saat itu.
Laporan tersebut juga memuat kesaksian sejumlah orang mengenai dugaan kebijakan kafe tersebut. Salah seorang warga Israel mengaku pernah melihat tiga pemuda India diminta meninggalkan kafe meski telah duduk di dalam.
Namun, terdapat pula kesaksian berbeda dari warga Israel lainnya yang menyatakan dirinya mendukung kebijakan tersebut dengan alasan terkait pengalaman pembayaran pelanggan. Pemilik kafe ketika itu tidak memberikan komentar mengenai laporan tersebut.
Kasus pada 2015 kemudian mendapat perhatian di India dan memicu kritik di media sosial. Sementara itu, keluhan terbaru dari turis India di Dharamkot kembali memunculkan perbincangan mengenai pengalaman wisatawan lokal ketika berkunjung ke kawasan yang banyak didatangi turis mancanegara.
Riky






