MimbarJurnalis.com, TAIPEI — Topan Champi menerjang wilayah Taiwan pada Sabtu (24/10/2026), menyebabkan satu orang meninggal dunia, 527 orang terluka, serta mengganggu pasokan listrik dan transportasi. Meski kekuatannya mulai melemah, badai tersebut masih membawa angin kencang dan hujan deras sebelum bergerak ke arah pesisir China.
Dikutip dari Reuters, Champi sebelumnya sempat dikategorikan sebagai supertopan dan menjadi salah satu badai terkuat di kawasan Pasifik tahun ini. Hingga Sabtu, embusan angin di sekitar pusat badai masih mencapai sekitar 126 kilometer per jam.
Badan Meteorologi Taiwan melaporkan, pusat topan berada sekitar 150 kilometer di sebelah timur Taiwan setelah melewati pesisir timur laut pulau tersebut pada dini hari.
Badai itu diperkirakan bergerak ke utara menuju pesisir China sebelum berlanjut ke wilayah selatan Jepang. Meski intensitasnya menurun, dampak cuaca ekstrem masih dirasakan di sejumlah wilayah Taiwan.
Ratusan Orang Terluka, Ribuan Aktivitas Terganggu
Departemen pemadam kebakaran Taiwan melaporkan satu korban meninggal dunia akibat tersapu ombak di Pulau Liuqiu. Sementara itu, jumlah korban luka mencapai 527 orang akibat angin kencang dan hujan deras.
Dampak topan juga meluas ke sektor kelistrikan. Perusahaan listrik Taipower menyebut lebih dari 167.000 rumah sempat mengalami pemadaman listrik. Sebagian besar pasokan telah kembali pulih, meski gangguan sempat memengaruhi aktivitas masyarakat.
Transportasi udara turut terdampak. Kementerian Transportasi Taiwan mencatat 242 penerbangan dibatalkan pada Sabtu. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan Jumat, ketika pembatalan hampir mencapai 1.000 penerbangan.
Di Taipei, sejumlah pohon tumbang dan hujan deras disertai hembusan angin masih terjadi secara berkala. Pemerintah di wilayah utara dan tengah Taiwan, termasuk Taipei, juga memperpanjang penutupan sekolah dan kantor hingga hari kedua.
Topan Melemah, Ancaman Cuaca Ekstrem Belum Berakhir
Meski Champi mulai kehilangan kekuatannya, pergerakan badai menuju pesisir China tetap menjadi perhatian. Hujan deras dan angin kencang masih berpotensi mengganggu aktivitas di wilayah yang dilalui sistem badai tersebut.
Taiwan dikenal memiliki sistem kesiapsiagaan menghadapi topan. Namun, kejadian ini kembali menunjukkan bahwa badai tropis yang terjadi pada musim gugur tetap dapat menimbulkan korban jiwa dan kerusakan, meskipun wilayah terdampak telah memiliki sistem mitigasi bencana.
Perkembangan Topan Champi selanjutnya akan bergantung pada arah pergerakan dan perubahan intensitas badai ketika mendekati kawasan pesisir China dan berpotensi bergerak menuju Jepang bagian selatan.
kaka






