MimbarJurnalis.com, GAZA – Hamas menyetujui perlucutan senjata secara total sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai bersama Board of Peace (Dewan Perdamaian), lembaga yang dibentuk dalam kerangka rencana perdamaian yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dewan Perdamaian menyebut kesepakatan tersebut sebagai “terobosan bersejarah” yang diharapkan membuka jalan menuju penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza secara bertahap.
Namun hingga kini, Pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana tersebut.
Trump Sebut Perdamaian Dilaksanakan Bertahap
Melalui unggahan di platform Truth Social, Donald Trump menjelaskan bahwa implementasi perjanjian akan dilakukan secara bertahap dengan sistem verifikasi yang ketat.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan setiap tahapan hanya dapat dijalankan apabila kedua pihak benar-benar memenuhi seluruh kewajibannya.
Dalam skema tersebut, Hamas akan memulai proses perlucutan senjata dari kelompok-kelompok bersenjata yang lebih kecil sebelum membongkar seluruh infrastruktur militernya.
Fasilitas yang masuk dalam proses pembongkaran meliputi jaringan terowongan bawah tanah, gudang penyimpanan senjata, hingga lokasi produksi persenjataan.
Pemerintah AS mengakui tahapan ini diperkirakan membutuhkan waktu yang cukup panjang karena melibatkan proses teknis yang kompleks.
Otoritas Palestina Akan Ambil Alih Persenjataan Gaza
Setelah seluruh tahapan perlucutan senjata selesai, otoritas Palestina yang baru direncanakan mengambil alih pengelolaan seluruh persenjataan di Jalur Gaza.
Termasuk di dalamnya persenjataan yang selama ini digunakan oleh kepolisian yang dikelola Hamas.
Rencana tersebut juga mencakup proses penonaktifan senjata berat, penutupan jaringan terowongan, serta penghentian operasional fasilitas-fasilitas militer.
Selanjutnya, seluruh senjata pribadi di Gaza akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum Palestina.
Israel Belum Pastikan Penarikan Pasukan
Meski Hamas telah menyatakan persetujuan terhadap perlucutan senjata, masih banyak pertanyaan mengenai tahap berikutnya, terutama terkait penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan Presiden Donald Trump akan merasa “sangat kecewa” apabila Israel memutuskan tidak menarik pasukannya, karena langkah tersebut merupakan salah satu syarat utama dalam rencana perdamaian yang diumumkan sejak Oktober lalu.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hingga kini belum menunjukkan sinyal kuat akan melakukan penarikan permanen pasukan dari Gaza.
Ia juga masih menghadapi tekanan dari mitra koalisi pemerintahan yang selama ini menolak langkah tersebut.
Selain itu, berbagai persoalan teknis masih menjadi pembahasan, termasuk siapa yang akan mengambil alih kendali wilayah setelah pasukan Israel ditarik dan bagaimana status zona penyangga di sepanjang perbatasan Gaza.
Warga Gaza Masih Skeptis
Di tengah pengumuman kesepakatan tersebut, masyarakat Gaza justru menyambutnya dengan penuh keraguan.
Banyak warga Palestina mengaku belum sepenuhnya percaya karena berbagai upaya gencatan senjata dan perjanjian damai sebelumnya berulang kali gagal memberikan perubahan nyata.
Rasa skeptis itu muncul setelah bertahun-tahun konflik berkepanjangan yang menyebabkan kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk.
Kepemimpinan Baru Hamas Diharapkan Buka Jalan Perdamaian
Kesepakatan ini juga muncul tidak lama setelah Hamas menyelesaikan pemilihan kepemimpinan baru yang mengangkat Khalil al-Hayya sebagai pemimpin organisasi tersebut.
Sejumlah pejabat Palestina yang terlibat dalam proses perundingan menilai kepemimpinan baru Hamas memiliki kesiapan mengambil keputusan strategis yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Langkah tersebut dipandang sebagai respons terhadap krisis kemanusiaan yang masih dialami lebih dari dua juta warga Palestina di Jalur Gaza.
Mediator Akan Bertemu di Kairo
Sebagai tindak lanjut, para mediator perdamaian yang terdiri dari Mesir, Amerika Serikat, Qatar, dan Turki dijadwalkan segera menggelar pertemuan di Kairo.
Pertemuan tersebut bertujuan membahas implementasi kesepakatan sekaligus memastikan seluruh pihak menjalankan komitmen yang telah disepakati.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, kesepakatan ini berpotensi menjadi langkah paling signifikan menuju perdamaian di Gaza setelah konflik berkepanjangan yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa.
Sumber: bbc/Deni






