MimbarJurnalis.com, TOKYO — Sutradara Indonesia Garin Nugroho tak kuasa menahan tangis setelah film terbarunya, Merah Sebelum Fajar (Red Before Dawn), menjalani penayangan perdana dunia di Hulic Hall Tokyo, Jepang, pada 27 Oktober 2026. Momen emosional tersebut terjadi dalam rangkaian Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-39, setelah Garin mengungkapkan kegelisahannya terhadap berbagai peristiwa kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi di Indonesia maupun dunia.
Tangis Garin pecah bukan karena rasa bangga semata atas pemutaran filmnya di festival internasional. Ia mengaku menyimpan perasaan getir, marah, dan geram selama bertahun-tahun ketika menyaksikan berbagai bentuk kekerasan yang menimpa masyarakat.
“Aku nggak pernah nangis di panggung,” kata Garin saat berbincang dengan ANTARA di Tokyo setelah filmnya diputar untuk pertama kalinya di dunia.
Ia menjelaskan, film Merah Sebelum Fajar menjadi ruang untuk mengekspresikan berbagai perasaan yang selama ini terpendam, terutama terhadap nasib korban kekerasan dan masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan.
“Terlalu banyak kekerasan dalam kehidupan ini, jadi katarsis. Dan banyak orang-orang yang terkena bencana dan kekerasan, tapi tidak diperhatikan. Jadi banyak ketidakberdayaan, korban kekerasan, korban kerusakan alam yang bukan jadi dosa mereka,” papar Garin.
Perjalanan Panjang Garin Nugroho di Festival Film Tokyo
Keikutsertaan Merah Sebelum Fajar dalam TIFF 2026 menjadi bagian dari perjalanan panjang Garin Nugroho di festival film bergengsi tersebut.
Hubungan Garin dengan Tokyo International Film Festival telah terjalin sejak 1994. Saat itu, ia berhasil meraih penghargaan Gold Prize melalui film Surat untuk Bidadari.
Empat tahun kemudian, film Daun di Atas Bantal kembali memperoleh pengakuan dengan meraih Special Jury Prize pada penyelenggaraan festival tahun 1998.
Garin bahkan mengenang bahwa dua penghargaan sebelumnya tidak membuatnya menangis seperti saat penayangan Merah Sebelum Fajar.
“Dapat penghargaan 20 juta yen, film terbaik (Surat untuk Bidadari). Daun di Atas Bantal dapat Special Jury Prize (tahun 1998). Tapi ya nggak nangis!” kenangnya.
Satu-satunya Wakil Indonesia di Kompetisi Utama TIFF 2026
Film Merah Sebelum Fajar menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang berhasil masuk kategori Kompetisi Utama Tokyo International Film Festival 2026.
Pada penyelenggaraan ke-39, TIFF menerima sebanyak 1.892 film dari 112 negara dan wilayah. Dari jumlah tersebut, hanya 15 film yang terpilih untuk bersaing dalam kompetisi utama.
Sejumlah penghargaan bergengsi diperebutkan dalam ajang tersebut, mulai dari Tokyo Grand Prix, Special Jury Prize, Best Director Award, Best Actress Award, Best Actor Award, hingga Best Artistic Contribution Award.
Keberhasilan film Garin menembus seleksi utama menjadi pencapaian penting bagi perfilman Indonesia di panggung internasional.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya turut menyampaikan apresiasi atas pencapaian tersebut. Ia mengaku bangga karena karya sineas Indonesia mampu bersaing dengan film-film dari berbagai negara.
Menurut Riefky, film Indonesia tidak hanya memiliki potensi sebagai kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) yang bernilai bisnis, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pengalaman dan pengetahuan manusia lintas negara serta budaya.
Ia berharap pencapaian tersebut dapat membuka peluang kerja sama dan pengembangan industri kreatif Indonesia secara berkelanjutan.
kaka






