Dari Dapur Rumah Jadi Homestay Tepi Laut, Kisah Iwan Merintis Bisnis di Pulau Penyengat

MimbarJurnalis.com, TANJUNGPINANG – Satu per satu kapal pompong merapat di Pelantar Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). Wisatawan turun, melangkah menuju gerbang wisata di depan Masjid Raya Sultan Riau, lalu menyebar untuk menikmati jejak sejarah dan budaya Melayu di pulau kecil tersebut.

Namun, ketika siang berganti sore, pemandangan itu berulang. Sebagian besar pengunjung kembali menyeberang ke Tanjungpinang. Pulau yang ramai pada siang hari kembali menjalani kehidupan yang lebih tenang.

Bagi Iwan Kurniawan, pemandangan itu bukan sekadar rutinitas wisata. Dari dapur rumahnya yang menghadap laut, tepat di seberang pelantar, lelaki kelahiran Lampung itu melihat peluang usaha yang belum banyak digarap masyarakat setempat.

“Turis banyak datang ke Pulau Penyengat, tapi siang atau sorenya mereka kembali ke seberang, ke Tanjungpinang. Ini peluang bisnis,” kata Iwan, Minggu (18/10/2026).

Dari pemikiran sederhana itulah, sebuah rumah di tepi laut kemudian bertransformasi menjadi penginapan. Bukan hotel berbintang, bukan pula resor mewah, melainkan homestay yang menawarkan kesempatan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama di tengah lingkungan masyarakat Pulau Penyengat.

Berawal dari Pemandangan di Depan Rumah

Dari Dapur Rumah Jadi Homestay Tepi Laut, Kisah Iwan Merintis Bisnis di Pulau Penyengat
Wisatawan dari Malaysia menikmati malam di Homestau Dapoer Laut (itktok dapoer laut)

Ide membangun homestay muncul pada 2019, sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, Iwan mulai berpikir bahwa kunjungan wisatawan ke Pulau Penyengat semestinya tidak berhenti pada perjalanan singkat dari satu objek sejarah ke objek lainnya.

Pulau yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Melayu itu menyimpan banyak hal untuk dinikmati lebih lama. Ada Masjid Raya Sultan Riau, makam Raja Ali Haji, kompleks pemakaman tokoh-tokoh penting, serta peninggalan Kesultanan Riau-Lingga.

Sayangnya, sebagian wisatawan masih menjadikan Penyengat sebagai destinasi singgah. Datang pada pagi atau siang hari, berkeliling pulau, kemudian kembali ke Tanjungpinang sebelum malam.

Iwan melihat ada kebutuhan yang bisa dijawab melalui penginapan milik warga.

Setelah pandemi mulai mereda pada akhir 2020, ia mencoba menawarkan pengalaman menginap di Pulau Penyengat melalui Google Bisnis. Saat itu, persiapannya bahkan belum selesai. Ia baru menyiapkan satu kamar di rumahnya.

Namun, respons datang lebih cepat dari perkiraan.

“Waktu itu saya baru menyiapkan salah satu kamar. Kamar belum siap, ternyata promosi saya sudah ada yang tertarik untuk menginap di Pulau Penyengat,” kenangnya.

Karena kamar di rumahnya belum siap digunakan, tamu tersebut akhirnya diinapkan di Homestay Sultan, yang berada di depan Masjid Raya Sultan Riau.

Pengalaman itu menjadi dorongan bagi Iwan untuk melanjutkan rencananya. Ia melihat bahwa gagasan menginap di Pulau Penyengat memiliki peminat, meskipun usaha tersebut masih perlu diperkenalkan kepada lebih banyak wisatawan.

Dapur Lama Berubah Menjadi Dapoer Laut

Dari Dapur Rumah Jadi Homestay Tepi Laut, Kisah Iwan Merintis Bisnis di Pulau Penyengat
Owner Homestay Dapoer Laut, Iwan Kurniawan melayani langsung pengurus PWI Kepri yang menginap di sana, Minggu (18/10/2026) (dennirisman)

Akhir 2020 menjadi titik awal perubahan rumah Iwan. Rumahnya yang berada di kawasan Istana Laut Penyengat mulai direnovasi untuk dijadikan tempat menginap.

Bagian dapur yang sebelumnya berada di belakang rumah dirombak total. Ruangan itu kemudian dikembangkan menjadi bagian dari area penginapan, lengkap dengan kamar untuk tamu.

Proses tersebut membutuhkan waktu. Baru pada akhir 2021, Homestay Dapoer Laut siap menerima pengunjung dengan kapasitas tiga kamar.

Nama Dapoer Laut seolah menyimpan jejak perjalanan usaha tersebut: dari ruang dapur yang menghadap laut, lahir gagasan untuk memberikan pengalaman bermalam kepada wisatawan.

Pada masa awal, menjalankan homestay bukan perkara mudah. Belum banyak wisatawan yang mengetahui bahwa Pulau Penyengat sudah memiliki pilihan penginapan.

Iwan harus menghadapi tantangan memperkenalkan usaha sekaligus meyakinkan wisatawan bahwa pulau bersejarah itu bukan hanya tempat untuk berkunjung beberapa jam.

Perkembangan mulai terasa ketika Pemprov Kepri menjadikan Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata unggulan. Menurut Iwan, peningkatan perhatian terhadap kawasan tersebut pada 2024 ikut mendorong kunjungan dan jumlah tamu yang menginap.

Bagi pelaku usaha seperti dirinya, bertambahnya kunjungan menjadi peluang untuk mengembangkan usaha sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Iwan menambahkan, setiap weekend, tiga kamar di homestaynya selalu penuh. Malah sering kamarnya itu penuh jauh hari, di boking tamu dari Singapura dan Malaysia.

Harga kamar di Homestay Dapoer Laut bervariasi, mulai dari Rp 350.000 hingga Rp 250.000 per malam, tergantung tipe kamar. Setiap kamar ada ac, kamar mandi, wifi dan dapat sarapan pagi. Kecuali kamar yang termurah, kamar mandi diluar.

Homestay Ada, tetapi Tak Selalu Mudah Ditemukan

Dari Dapur Rumah Jadi Homestay Tepi Laut, Kisah Iwan Merintis Bisnis di Pulau Penyengat
Gerbang wisata Pulau Penyengat (dennirisman)

Ada hal menarik ketika wisatawan berjalan menyusuri kawasan permukiman Pulau Penyengat. Berbeda dengan kawasan wisata yang dipenuhi papan nama hotel dan resor, penginapan di pulau ini tidak selalu terlihat dari luar.

Sebagian wisatawan mengetahui keberadaan homestay melalui rekomendasi warga, informasi dari pengelola wisata, media sosial, atau pencarian di internet.

Iwan menyebut, berdasarkan informasi yang diketahuinya, terdapat sekitar tujuh homestay yang aktif. Sementara itu, data dalam grup WhatsApp Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mencatat sekitar 20 rumah yang dijadikan homestay.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa peluang usaha penginapan di Penyengat masih memiliki ruang untuk berkembang. Namun, promosi, pendataan, dan kemudahan pemesanan menjadi pekerjaan penting agar wisatawan lebih mudah menemukan tempat menginap.

Abu dan Homestay Nabila, Usaha Kecil dengan Dua Kamar

Kisah serupa dijalani Abu, pemilik Nabila Homestay. Penginapan ini hanya memiliki dua kamar, tetapi setiap kamar dirancang untuk menampung sekitar empat orang atau lebih.

Setiap kamar memiliki ruang tidur dan area hall yang bisa ditambahkan tempat tidur ekstra. Fasilitas yang disebutkan saat itu meliputi kamar mandi di dalam, lemari, meja rias, dan tempat tidur berukuran queen.

Dengan ruang yang relatif terbatas, penginapan tersebut dapat menjadi pilihan bagi keluarga atau rombongan kecil yang ingin bermalam di Pulau Penyengat.

Abu menyebut tarif menginap sebesar Rp300.000 per malam. Ia mengatakan tarif itu hampir sama dengan harga sejumlah homestay lain di Penyengat.

Meski demikian, jumlah tamu yang menginap belum selalu stabil.

“Seperti Lebaran itu semua penuh, tapi kalau hari biasa tak ada, palingan cuma Sabtu Minggu,” ujarnya.

Tamu yang datang pun tidak selalu wisatawan yang sedang berlibur. Sebagian merupakan keluarga atau kerabat warga yang berkunjung ke Penyengat, tetapi tidak memiliki cukup ruang untuk menginap di rumah saudara mereka.

Kisah Nabila Homestay memperlihatkan bahwa usaha penginapan warga memiliki karakter berbeda dari bisnis hotel pada umumnya. Permintaan sangat dipengaruhi musim liburan, akhir pekan, acara khusus, serta kemampuan pengelola menjangkau calon tamu.

Berapa Biaya Menginap di Pulau Penyengat?

Bagi wisatawan yang tertarik merasakan suasana malam di Penyengat, biaya penginapan menjadi salah satu pertimbangan penting.

Berdasarkan informasi historis yang dihimpun dari direktori Desa Wisata Pulau Penyengat di Kementerian Pariwisata, sejumlah penginapan pernah mencantumkan tarif mulai Rp200.000 per malam. Beberapa pilihan lain, termasuk Penginapan Sulthan, Homestay Dapur Laut, dan Nabila Homestay, tercantum mulai Rp250.000 per malam.

Berikut sejumlah pilihan homestay yang dapat dipertimbangkan wisatawan berdasarkan informasi yang tersedia:

1. Penginapan Sulthan: tercatat memiliki enam kamar.
2. Homestay Dapoer Laut: memiliki tiga kamar.
3. Nabila Homestay: memiliki dua kamar.
4. Homestay 2Z: tercatat memiliki satu kamar.
5. Homestay Pak Ali: tercatat memiliki dua kamar.
6. Homestay Zurna: tercatat memiliki tiga kamar.
7. Homestay Gurindam: tercatat memiliki dua kamar.

Mengapa Bermalam di Penyengat Bisa Memberikan Pengalaman Berbeda?

Dari Dapur Rumah Jadi Homestay Tepi Laut, Kisah Iwan Merintis Bisnis di Pulau Penyengat
Suasana malam hari pelantar Pulau Penyengat (dennirisman)

Menginap di Pulau Penyengat bukan sekadar mencari tempat beristirahat. Ada pengalaman yang bisa didapatkan ketika wisatawan tidak harus mengejar jadwal kapal untuk kembali ke Tanjungpinang pada sore hari.

Pada siang hari, pengunjung bisa menjelajahi Masjid Raya Sultan Riau, menyusuri kawasan permukiman tradisional, mengunjungi makam Raja Ali Haji, serta mengenal peninggalan Kesultanan Riau-Lingga.

Setelah itu, wisatawan dapat kembali ke penginapan untuk beristirahat dan menikmati suasana pulau tanpa harus terburu-buru meninggalkan kawasan tersebut.

Pulau Penyengat memiliki daya tarik yang tidak hanya berkaitan dengan bangunan bersejarah, tetapi juga kehidupan masyarakat, tradisi Melayu, dan lingkungan permukiman yang masih menjadi bagian dari keseharian warga.

Pulau ini juga memiliki hubungan erat dengan Raja Ali Haji, tokoh yang berperan penting dalam perkembangan bahasa Melayu dan tradisi kesusastraan yang menjadi bagian dari sejarah bahasa Indonesia.

Bagi pencinta sejarah, perjalanan semalam memberi kesempatan untuk menyusun kunjungan dengan lebih santai. Bagi keluarga, menginap dapat membuat perjalanan lebih leluasa. Sementara itu, bagi wisatawan yang tertarik dengan kehidupan lokal, homestay memberikan kesempatan untuk tinggal lebih dekat dengan masyarakat setempat.

Meski begitu, pengunjung tetap perlu memperhatikan jadwal kapal pompong, terutama jika memiliki agenda perjalanan lanjutan dari Tanjungpinang.

Kunjungan Wisata Membuka Peluang Ekonomi Warga

Pengembangan homestay tidak dapat dilepaskan dari upaya menjadikan Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah, budaya, dan religi yang semakin dikenal.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah melakukan berbagai penataan kawasan, termasuk perbaikan infrastruktur dan fasilitas pendukung wisata. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus menjaga nilai sejarah dan budaya pulau.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, dalam keterangannya mengenai pengembangan Pulau Penyengat menekankan bahwa potensi sejarah dan budaya kawasan ini dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Meningkatnya kunjungan wisatawan membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan UMKM, homestay, kuliner, serta layanan wisata lainnya.

Menurut Hasan, saat ini rata-rata tingkat kunjungan ke Pulau Penyengat setiap bulan berkisar 2.500 orang – 3.000 orang tiap bulan. Mereka terdiri dari wisatawan lokal, wisatawan dari Malaysia dan Singapura.

Peningkatan kunjungan akan semakin berarti apabila wisatawan tidak hanya datang, berfoto, lalu kembali menyeberang. Semakin lama pengunjung tinggal, semakin terbuka pula peluang bagi usaha masyarakat untuk menawarkan kamar, makanan, jasa pemandu, dan produk lokal.

Namun, peluang itu tidak otomatis berubah menjadi pendapatan. Pengelola tetap membutuhkan promosi yang efektif, pelayanan yang baik, informasi harga yang jelas, serta kemudahan reservasi.

Dari Dapur Kecil, Ada Harapan untuk Pulau Bersejarah

Kisah Iwan Kurniawan bermula dari pemandangan sederhana: kapal pompong yang datang membawa wisatawan, kemudian kembali mengangkut mereka ke Tanjungpinang pada sore hari.

Dari rutinitas itulah ia melihat kemungkinan bahwa Pulau Penyengat dapat menawarkan lebih dari sekadar perjalanan singkat. Rumahnya kemudian direnovasi, dapurnya diubah, dan tiga kamar Dapoer Laut disiapkan untuk menerima tamu.

Perjalanan itu tidak berlangsung instan. Pada awalnya, promosi masih terbatas dan jumlah tamu belum menentu. Namun, usaha tersebut menjadi bagian dari upaya warga menangkap peluang dari perkembangan pariwisata di kampung halaman istrinya.

Di pulau yang menyimpan jejak Kesultanan Riau-Lingga dan pemikiran Raja Ali Haji, homestay sederhana memiliki peran tersendiri. Penginapan bukan hanya tempat untuk tidur, melainkan juga jembatan agar wisatawan dapat mengenal Penyengat lebih dekat.

Bagi wisatawan, bermalam di Pulau Penyengat menawarkan kesempatan menikmati perjalanan dengan ritme yang lebih santai. Bagi warga, kehadiran tamu menjadi peluang untuk mengembangkan usaha tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat mereka hidup.

Pada akhirnya, masa depan pariwisata Penyengat bukan hanya ditentukan oleh bangunan bersejarah dan penataan kawasan. Kesempatan masyarakat untuk terlibat dan memperoleh manfaat ekonomi juga menjadi bagian penting dari perjalanan destinasi ini.

Jadi, ketika merencanakan kunjungan ke Pulau Penyengat, jangan hanya menghitung berapa banyak tempat yang bisa didatangi dalam sehari. Pertimbangkan pula untuk bermalam, menikmati suasana lebih lama, dan mengenal kisah pulau ini dari orang-orang yang menjadikannya rumah.

Denni Risman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *